← Requiem of the fallen star

BAB 6: Orang-orangan Sawah dan Kuda Besi

Bab 7 dari 7 1.645 kata Β± 8 menit 18 September 2026

Matahari pagi adalah alarm terbaik, setidaknya bagi makhluk fotosintetik seperti Calya.


Saat aku terbangun karena leher yang kaku dan perut yang keroncongan, hal pertama yang kulihat bukan lagi dinding gua yang lembap, melainkan siluet Calya yang berdiri di mulut gua.


Hujan badai semalam telah berhenti, menyisakan udara pagi yang dingin dan berkabut. Calya berdiri membelakangi kami, merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut sinar matahari pucat yang menembus celah pepohonan.


Dia terlihat seperti patung dewa Yunani yang tersesat di hutan berlumpur. Masalahnya, patung dewa ini setengah telanjang, celananya hancur menjadi kain perca, dan dia bersinar remang-remang.


"Tuan Calya sedang sarapan," bisik Lily yang sudah bangun lebih dulu. Dia duduk memeluk lutut, memperhatikan Calya dengan takjub.


"Itu bukan sarapan, Lily. Itu fotosintesis," koreksiku sambil menguap, mencoba mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhku.


Aku berjalan tertatih mendekati mulut gua. "Hei. Sudah kenyang?"


Calya menurunkan tangannya. Dia menoleh, kulitnya terlihat lebih segar, retakan di dadanya sudah kembali ke warna biru laut yang tenang, tidak lagi hitam gosong.


"Energi dua puluh persen," lapornya datar. "Matahari di sini pelit. Atmosfer kalian terlalu tebal menyaring sinar UV."


"Maaf kalau planet kami mengecewakanmu," sindirku. "Sekarang dengar. Kita harus ke stasiun kereta di Desa Lowhill. Itu satu-satunya jalan ke London. Tapi kita punya masalah besar."


Aku menunjuk penampilan kami. Aku dan Lily terlihat seperti pengemis yang baru keluar dari selokan lumpur. Tapi Calya lebih parah. Dia terlihat seperti korban ledakan laboratorium yang lupa pakai baju. Retakan biru bercahaya di leher, dada, dan lengannya terlalu mencolok.


"Kalau kau masuk ke desa dengan penampilan seperti lampu neon berjalan begitu, kita akan ditangkap dalam lima menit," kataku. "Kita butuh penyamaran."


Calya menatap tubuhnya sendiri. "Penyamaran? Seperti... bunglon?"


"Bukan. Seperti baju, Bintang Bodoh."


[Satu Jam Kemudian - Ladang Jagung Perbatasan]


Mencuri adalah dosa. Ayah selalu mengajarkan itu. Tapi kurasa Tuhan akan memaklumi kalau pencurinya adalah dua gadis yatim piatu yang rumahnya baru saja dibakar, ditambah satu alien yang tidak paham konsep kepemilikan.


Kami menemukan sebuah rumah pertanian di pinggir desa. Di halaman belakangnya, ada jemuran pakaian yang melambai-lambai tertiup angin.


"Aku akan mengawasi anjing penjaga," bisikku pada Calya. "Kau, ambil pakaian yang ukurannya pas. Cepat. Dan jangan meledakkan apa pun."


Calya mengangguk. Dia merayap mendekati jemuran dengan gerakan yang aneh terlalu kaku, tanpa suara, seperti kucing yang mengintai mangsa.


Dia berhenti di depan kemeja putih lengan panjang dan rompi cokelat. Dia menatapnya lama, lalu menoleh padaku di semak-semak.


"Rose," panggilnya dengan suara 'bisikan' yang terlalu keras.


"Sstt! Apa?!"


"Kancingnya banyak sekali. Tidak praktis."


"Ambil saja!"


Calya mendengus, lalu menyambar kemeja, rompi, dan sebuah mantel panjang (long coat) berwarna abu-abu kusam. Dia juga mengambil sepasang sarung tangan kulit yang sepertinya milik si petani untuk berkebun.


Tiba-tiba, seekor angsa putih hewan penjaga yang lebih galak dari anjing muncul dari balik semak. Angsa itu merentangkan sayap dan mendesis garang pada Calya. HISS!


Aku menahan napas, siap lari.


Calya hanya menatap angsa itu. Matanya berkedip sekali. Warna Aquamarine nya bersinar sedikit. Angsa itu langsung diam. Lehernya menyusut. Hewan itu mundur perlahan, lalu duduk diam dan menunduk hormat, seolah baru saja bertemu rajanya.


Calya kembali ke semak-semak dengan tumpukan baju curian.


"Angsa itu... kau apakan?" tanyaku takjub.


"Kukatakan padanya kalau aku bisa mengubahnya jadi angsa kristal abadi," jawab Calya santai sambil mencoba memasukkan kepalanya ke lubang lengan kemeja. "Dia memilih tetap jadi angsa biologis."


Kami mundur ke dalam hutan untuk berganti pakaian. Lily membersihkan wajahnya di sungai kecil. Aku memakai gaun sederhana milik istri petani yang sedikit kebesaran, lalu mengikat rambutku dengan pita kain perca agar terlihat lebih rapi.


Lalu aku berbalik melihat Calya. Dan untuk sesaat... aku lupa cara bernapas.


Dia mengenakan kemeja putih dengan kerah tinggi yang menutupi retakan di lehernya. Rompi cokelat mengetatkan pinggangnya yang ramping. Mantel abu-abu panjang itu membungkus tubuhnya, memberikan aura misterius. Dia juga memakai sarung tangan kulit untuk menutupi retakan di tangannya.


Dia tidak lagi terlihat seperti monster atau orang gila. Dia terlihat seperti... bangsawan muda yang sedang menyamar. Atau detektif eksentrik dari novel misteri. Wajah datarnya yang tampan kini terlihat dingin dan berwibawa.


"Gatal," keluh Calya, merusak momen estetik itu sambil menggaruk punggungnya ke batang pohon seperti beruang. "Kain ini kasar. Serat katun kualitas rendah."


"Diamlah," kataku sambil merapikan kerahnya. "Kau terlihat... layak. Sekarang ingat aturannya: Jangan bicara kecuali ditanya. Jangan buka sarung tanganmu. Dan demi Tuhan, jangan makan batu di depan umum."


"Dimengerti, semoga harimu menyenangkan."


[Stasiun Kereta Api Lowhill]


Stasiun itu penuh sesak, bising, dan berbau asap. Ini adalah jantung Revolusi Industri. Lokomotif uap raksasa berwarna hitam legam mendesis-desis seperti naga besi yang sedang istirahat, memuntahkan uap putih pekat ke udara.


Orang-orang berlalu-lalang membawa koper, pedagang koran berteriak, dan buruh tambang yang wajahnya hitam karena debu duduk bergerombol menunggu kereta kelas tiga.


Calya menatap lokomotif uap itu dengan tatapan tidak suka.


"Efisiensinya menyedihkan," gumamnya pelan saat kami mengantre di loket tiket. "Mereka membakar ribuan ton batu bara hanya untuk mengubah air jadi uap dan mendorong roda? Primitif. Kalau aku sentuh ketel uapnya sedikit saja, kereta ini bisa melaju sampai ke bulan."


"Jangan sentuh apa pun," bisikku ngeri. "Kita mau ke London, bukan ke bulan."


Kami sampai di depan loket. Petugas tiket, seorang pria gemuk berkumis tebal, menatap kami curiga dari balik kaca loket.


"Tiga tiket ke London, kelas tiga," kataku.


"Dua belas Shilling," jawab petugas itu tanpa melihat wajahku.


Aku merogoh saku gaunku. Kosong. Tentu saja. Uangku terbakar bersama rumahku semalam. Keringat dingin mulai mengalir di punggungku. Aku lupa bagian paling penting dari rencana ini: Uang.


"Emm..." Aku menelan ludah. "Tuan, apakah boleh kami... berhutang? Atau mungkin menukar jam tangan ini?" Aku melepas jam tangan kulit peninggalan Ayah yang kacanya sudah retak.


Petugas itu melirik jam butut itu, lalu tertawa mengejek. "Kau pikir ini pegadaian? Tidak ada uang, minggir. Kau menghalangi antrean."


"Tolonglah, Tuan," Lily mencoba memohon dengan mata berkaca-kaca. "Kami harus ke kota. Paman kami sakit." (Kebohongan yang bagus, Lily).


"Minggir, gembel!" bentak petugas itu.

Tiba-tiba, sebuah tangan bersarung kulit terulur melewati bahuku. Calya.


Dia meletakkan sesuatu di atas meja loket. Bukan koin. Bukan jam tangan. Itu adalah kancing baju. Kancing plastik biasa yang dia copot dari manset kemejanya sendiri.


"Apa ini?" Petugas itu mendengus marah. "Kau mau membayarku pakai kancing plastik?!"


"Perhatikan baik-baik," kata Calya. Suaranya rendah, tenang, dan memiliki gaung otoritas yang aneh.


Calya menempelkan ujung jari telunjuknya ke kancing itu. Matanya bersinar Aquamarine sedetik. Hanya sedetik. Ada bunyi ting yang sangat pelan, nyaris tak terdengar di antara suara peluit kereta.


Struktur molekul pada kancing itu dipadatkan. Karbon di dalamnya disusun ulang, ditekan dengan gaya gravitasi mikro yang terfokus, dipanaskan, lalu didinginkan dalam hitungan milidetik.


Di depan mata petugas itu, kancing plastik berwarna putih kusam itu berubah. Warnanya menjadi bening. Membiaskan cahaya lampu stasiun menjadi pelangi. Keras. Murni.


Itu bukan lagi plastik. Itu Berlian. Berlian kasar seukuran kancing baju.


Rahang petugas itu jatuh. Matanya nyaris melompat keluar. "I-ini..."


"Cukup untuk tiga tiket?" tanya Calya datar. "Dan mungkin... seporsi roti isi daging untuk anak kecil ini?" Dia menunjuk Lily.


Petugas itu mengambil berlian itu dengan tangan gemetar, menggosoknya, lalu menatap Calya dengan tatapan takut bercampur hormat. "T-Tuan... ini cukup untuk membeli satu gerbong! Maafkan kelancangan saya! Saya... saya akan berikan tiket kelas satu!"


"Tidak perlu," potongku cepat, menyambar tiket kelas tiga yang disodorkan. "Kelas tiga saja. Kami tidak mau mencolok. Dan simpan kembaliannya. Anggap saja tip."


Aku menarik lengan Calya dan menggandeng Lily, menyeret mereka menjauh dari loket sebelum petugas itu sadar atau bertanya dari mana kami dapat berlian itu.


"Kau gila?!" desisku saat kami berjalan menuju peron. "Kau bilang energimu tinggal sedikit! Kenapa buang-buang tenaga buat bikin berlian?!"


Calya mengangkat bahu, wajahnya masih datar. "Itu cuma mengubah struktur kisi karbon. Tidak butuh banyak energi. Lebih mudah daripada mengubah angsa."


Lalu, dia menatap Lily. "Lagipula, manusia kecil ini butuh asupan glukosa. Roti daging, kan?"


Lily tersenyum lebar, memegang perutnya. "Terima kasih, Tuan Calya!"


Aku terdiam. Aku menatap profil samping wajahnya yang dingin. Dia monster kosmik yang tidak punya perasaan. Dia bilang dia cuma peduli logika. Tapi dia baru saja menghabiskan sisa energinya yang berharga hanya supaya adikku tidak kelaparan.


Mungkin... hanya mungkin... Bintang Bodoh ini tidak seburuk yang kukira.


[Di Dalam Kereta - Menuju London]


Kereta uap itu mulai bergerak, meninggalkan Desa Lowhill dan hutan kristal kami yang perlahan menjauh di balik jendela.


Gerbong kelas tiga itu bau keringat, ayam, dan tembakau murah. Kami duduk berhimpitan di bangku kayu keras. Lily tertidur di pangkuanku setelah menghabiskan roti dagingnya. Aku bersandar di jendela, menatap pemandangan desa yang berubah menjadi ladang, lalu perlahan mulai terlihat cerobong-cerobong asap pabrik di kejauhan.


Calya duduk di hadapanku. Dia duduk tegak, kaku, dengan kedua tangan di atas lutut, persis seperti anak sekolah yang dihukum.


Dia menatap ke luar jendela dengan tatapan intens.


"Kenapa manusia suka sekali bergerak?" tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh padaku.


"Maksudmu?"


"Kalian membangun mesin berisik ini. Kalian membakar bumi kalian sendiri. Kalian berlari ke sana kemari. Padahal umur kalian pendek sekali. Kenapa tidak diam saja?"


"Karena kami mencari sesuatu," jawabku pelan. "Kami mencari uang. Cinta. Atau tempat yang aman. Seperti kami sekarang... kami lari karena ingin hidup."


Calya menoleh padaku. Mata birunya bertemu dengan mataku.


"Hidup..." gumamnya. "Matahari selalu bilang padaku bahwa hidup itu melelahkan. Makanya dia iri padaku yang cuma melayang diam di angkasa."


Dia mengangkat tangannya yang bersarung kulit, menatapnya. "Tapi sekarang... aku di sini. Bergerak bersama kalian. Di dalam kotak besi yang bau ini."


Sudut bibirnya terangkat sedikit. Sangat sedikit. Hampir tidak terlihat. "Rasanya... tidak buruk."


TUUUT! TUUUT!


Peluit kereta menjerit panjang. Di depan sana, cakrawala mulai berubah warna. Dari biru langit menjadi abu-abu pekat. Asap tebal menggantung di udara seperti selimut permanen. Menara-menara besi dan gedung-gedung bata merah menjulang tinggi, menusuk langit yang mendung.


London. Kota Besi. Sarang Revolusi Industri, dan tempat di mana "Jantung" Calya yang hilang berada.


"Selamat datang di neraka, Bintang," bisikku.


Calya mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit, retakan di balik kerah bajunya berdenyut pelan merespons sesuatu di kejauhan.


"Bukan neraka, Rose," koreksinya. "Aku merasakannya. Di sana... di balik asap itu... ada kepingan diriku yang sedang menangis minta tolong."


πŸ’¬ Komentar

Komentar Bab Ini (0)

Masuk untuk berkomentar.

πŸ’¬

Belum ada komentar di bab ini.

←