← Requiem of the fallen star

BAB 3: Gravitasi dan Camilan Hitam

Bab 4 dari 7 1.117 kata Β± 6 menit 28 Agustus 2026

Hutan kembali hening. Asap biru sisa pembakaran bandit itu sudah menghilang tertiup angin, menyisakan kami bertiga yang berdiri canggung di tengah kebun kristal.


"Jadi..." Aku memulai, masih memegang senapan dengan tangan gemetar. "Kau baru saja... mengubah orang itu jadi debu?"


pemuda itu tidak menjawab. Dia masih sibuk mendongak ke matahari yang kini kembali tertutup awan mendung tebal.


"Ck," decaknya kesal. "Hilang lagi sinyalnya."


Dan tepat setelah kalimat itu keluar, tubuhnya goyah. Seperti boneka tali yang benangnya diputus serentak, lututnya lemas, matanya terbalik ke atas, dan dia ambruk ke depan.


"Awas!" teriak Lily.


Secara refleks, aku melempar senapanku dan menangkap tubuhnya agar tidak menghantam tanah kristal yang tajam. Setidaknya, itulah rencanaku.


Niatku mulia: menangkap tubuh pemuda kurus yang pingsan. Realitanya: aku merasa seperti baru saja mencoba menangkap tugu batu seberat dua ton.


BRUK!


Aku dan dia jatuh bersamaan ke tanah. Napasku sesak seolah paru-paruku baru saja digilas roda kereta uap.


"Ugh...!" Aku mengerang, berusaha mendorong tubuhnya menyingkir dari kakiku. Tapi dia tidak bergeming. Rasanya bukan seperti menindih manusia, tapi seperti tertindih jangkar kapal besi.


"Kak Rose! Kakak tidak apa-apa?" Lily panik, mencoba menarik tangan pemuda asing itu. "Berat sekali! Padahal tuan malaikat kurus!"


"Ini bukan berat manusia normal," desisku sambil mengertakkan gigi, mengerahkan seluruh tenaga sisa sarapan tadi pagi untuk menggulingkan tubuhnya. "Orang ini... dia makan batu atau apa?!"


Dengan napas terengah-engah, aku akhirnya berhasil membebaskan diri. pemuda itu tergeletak di tanah, diam tak bergerak. Retakan biru di dadanya meredup, nyaris mati.


"Dia pingsan, Kak," kata Lily, menempelkan telinga ke dadanya. "Jantungnya bunyinya aneh. Bukan deg-deg, tapi... berdengung."


Aku menatap langit yang semakin gelap. Hujan akan turun lagi. Kami tidak bisa membiarkannya di sini. Meskipun dia berbahaya, dia baru saja menyelamatkan nyawa kami (walau alasannya konyol).


Aku menatap Lily, lalu menatap gerobak sorong berkarat yang biasa kami pakai untuk mengangkut tembaga dari tambang.


"Lily," kataku pasrah. "Ambil gerobaknya."


[Alam Bawah Sadar Pemuda itu]


Gelap. Dingin. Sepi. Tempat yang nyaman. Aku suka di sini. Tidak ada manusia berisik, tidak ada gravitasi bumi yang menyebalkan.


"BANGUN, DASAR BINTANG MALAS!"


Sebuah cahaya keemasan meledak di kegelapan, menyilaukan mataku yang terpejam. Sesosok pria muncul. Dia mengenakan setelan jas formal berwarna emas norak, kacamata hitam, dan selendang bulu yang seolah terbuat dari lidah api.


Matahari. Atau seperti dia suka dipanggil: Sol.


"Kau ini benar-benar ya!" Sol berkacak pinggang, melayang di depanku. "Baru mendarat di bumi kurang dari 24 jam, energi sudah kritis! Dan apa tadi itu? Crystalize? Kau pakai teknik tingkat tinggi cuma buat ngusir satu nyamuk?!"


Aku menutup telinga. "Berisik. Aku ngantuk."


"Jangan tidur! Kau sedang diculik!"

Aku membuka satu mata. "Diculik?"


"Diseret! Lebih tepatnya diseret pakai gerobak bekas kotoran kuda! Harga dirimu sebagai Bintang Jatuh mau ditaruh di mana, hah?!" Sol menunjuk-nunjuk ke bawah. "Bangun! Cari bahan bakar! Kalau kau padam di sini, aku yang repot!"


"Bahan bakar..." gumamku. "Di sini tidak ada gas Helium."


"Cari Karbon! Oksigen! Apa saja! Jangan manja! Jadilah omnivora!"


Sol menendang bokongku dengan kaki apinya.


[Dunia Nyata]


Aku tersentak bangun.


Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit kayu yang penuh sarang laba-laba. Hal kedua yang kurasakan adalah bau sup kentang hambar.


Aku mencoba duduk, tapi tanganku tertahan. Seseorang telah mengikatku di kursi kayu reyot menggunakan... tali jemuran?


Di depanku, gadis yang lebih tua (Rose) berdiri siaga memegang pisau dapur. Adiknya (Lily) mengintip dari balik pintu kamar.


"Jangan bergerak," kata Rose, suaranya berusaha terdengar tegas meski tangannya gemetar memegang pisau. "Tali itu simpul mati. Kau tidak bisa lepas."


Aku menatap tali jemuran itu. Kelihatannya rapuh. Kalau aku bersin, mungkin putus. Tapi aku sedang malas bergerak, jadi aku diam saja.


"Siapa namamu?" tanya Rose.


"Calya."


"Dari mana asalmu?"


Aku menunjuk ke atas dengan daguku. "Atas."


Rose mengerutkan kening. "Desa Atas Bukit? Kota London?"


"Bintang."


Rose terdiam. Dia menatapku, lalu menatap adiknya, lalu menatapku lagi dengan tatapan kasihan. "Baiklah. Jadi kau kabur dari Rumah Sakit Jiwa, ya? Pantas kau punya delusi jadi penyihir."


"Bukan penyihir."


"Lalu apa? Yang tadi itu... api biru itu... apa?"


"Bersin."


"Bersin?" Rose terlihat semakin frustrasi. "Kau mengubah orang jadi debu karena BERSIN?!"


"Kurang lebih." Perutku tiba-tiba berbunyi. Bukan bunyi krucuk lapar manusia. Bunyinya seperti suara mesin uap tua yang bergemuruh dan beradu logam. GGRRRR-KLANK-ZZZT.


Rose mundur selangkah kaget. Lily terkikik geli.


"Kau... lapar?" tanya Rose ragu.


Aku mengangguk.


Rose menghela napas, menurunkan pisaunya, lalu mengambil mangkuk kayu dari meja. "Kami cuma punya ini. Sup kentang sisa kemarin. Tidak ada dagingnya, tapi hangat."


Dia menyodorkan mangkuk itu padaku. Aku menatap cairan keruh berwarna kekuningan itu. Baunya aneh. Tidak ada energi potensial di dalamnya. Ini sampah organik.


"Tidak mau," tolakku.


"Heh! Sudah ditolong, dikasih makan, malah pilih-pilih!" Rose tersinggung. "Makan atau kelaparan!"


Mataku menyapu ruangan, mencari sumber energi alternatif. Meja kayu? Terlalu rendah kalorinya. Pisau besi? Terlalu keras buat gigi manusia ini. Lalu mataku menangkapnya.


Di sudut ruangan, di samping tungku perapian, ada ember berisi bongkahan hitam legam. Emas hitam. Batu bara.


Mata Aquamarine ku berbinar. Karbon padat! Sumber energi fosil yang kotor, tapi cukup untuk mengisi daya darurat.


Aku berdiri, memutus tali jemuran itu dengan mudah seolah itu terbuat dari tisu basah.


"Hei! Jangan berge-" Rose berteriak, mengacungkan pisaunya lagi.


Aku mengabaikannya. Aku berjalan menuju ember itu, berjongkok, dan mengambil satu bongkahan batu bara seukuran kepalan tangan.


"Itu buat tungku!" teriak Rose bingung. "Itu kotor! Jangan dipegang!"


Aku membuka mulut, dan menggigit batu bara itu.


KRAK.


Suaranya renyah, seperti menggigit apel yang sangat keras. Rose menjatuhkan pisaunya. Lily menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Aku mengunyahnya pelan. Rasanya pahit, berdebu, dan kering. Jauh sekali dari rasa gas Hidrogen murni di angkasa, tapi saat batu bara itu masuk ke perutku, aku merasakan sedikit hangat menjalar ke nadi retak di dadaku.


"Hmm," gumamku setelah menelan kunyahan pertama. "Agak lembap. Kualitas rendah."


Aku menoleh ke arah Rose yang wajahnya pucat pasi seolah melihat hantu.


"Ada lagi?" tanyaku sambil mengangkat sisa bongkahan batu bara yang sudah tergigit separuh.


Rose menatapku horor, lalu berbisik pelan pada adiknya. "Lily... kemasi barangmu. Kita tinggalkan rumah ini sekarang. Orang ini bukan manusia. Dia monster pemakan batu."


[Sementara itu, di Hutan Gelap]


Dua bandit yang selamat berlari tersengal-sengal hingga sampai di sebuah reruntuhan gereja tua di dalam hutan.


Di sana, sesosok pria berjubah hitam sedang menunggu, memegang tongkat dengan ujung kristal merah gelap.


"Tuan! Tuan!" lapor salah satu bandit dengan napas memburu. "Target... target di luar nalar! Dia bukan penambang ilegal!"


Pria berjubah itu berbalik perlahan. "Jelaskan."


"Dia... dia punya api biru! Dia mengubah Jack menjadi kristal hanya dengan menjentikkan jari!"


Mata pria berjubah itu melebar di balik tudungnya. Bibirnya menyunggingkan senyum mengerikan yang memperlihatkan gigi runcing.


"Api biru..." bisiknya serak. "Dan kristalisasi..."


Dia tertawa pelan, tawa yang membuat para bandit itu mundur ketakutan.


"Akhirnya. Setelah seratus tahun mencari... Wadah Bintang itu telah jatuh ke tangan kita. Siapkan pasukan pemburu. Malam ini, kita ambil jantungnya."


(Bersambung)



πŸ’¬ Komentar

Komentar Bab Ini (0)

Masuk untuk berkomentar.

πŸ’¬

Belum ada komentar di bab ini.

← β†’