← Requiem of the fallen star

BAB 1: Hujan, Abu, dan Cahaya Biru

Bab 2 dari 7 963 kata Β± 5 menit 14 Agustus 2026

London pinggiran 1890.


Hujan di Desa Blackwood tidak pernah benar-benar jernih. Air yang turun dari langit selalu bercampur dengan debu batu bara dan limbah asap pabrik, membuat segala sesuatu yang disentuhnya menjadi kelabu dan menyedihkan.


Di dalam sebuah pondok kayu yang dindingnya mulai lapuk dimakan rayap, aku duduk sambil menggosok laras senapan musket tua peninggalan Ayah. Bau minyak pelumas bercampur dengan aroma tanah basah.


Aku menyeka keringat yang menetes dari kening, meninggalkan noda hitam oli di pipiku yang pucat. Rambut merah mudaku yang kuikat asal-asalan rasanya semakin lengket karena udara lembap, beberapa helai anak rambut jatuh menutupi mataku yang lelah.


Srek. Srek. Srek.


Jari-jariku yang kasar dan penuh kapalan menari lincah di atas logam dingin itu. Ini bukan tangan gadis 19 tahun yang seharusnya memegang jarum sulam, tapi tangan yang dipaksa memegang senjata demi bertahan hidup.


Suara kain pembersih yang bergesekan dengan logam menjadi satu-satunya irama yang mengisi keheningan malam, selain bunyi rintik hujan yang memukul atap seng.


"Rose?"


Aku tidak menoleh. Mataku masih fokus mengecek mekanisme pelatuk. "Ada apa, Lily?"


"Langitnya aneh."


Adikku, Lily, berdiri jinjit di dekat jendela. Cahaya lampu minyak yang remang memantul di rambut pirangnya yang kusut khas bangun tidur.


Uap napasnya membuat kaca yang buram itu semakin berembun. Tubuhnya yang terlalu kurus membuat tulang selangkanya menonjol di balik gaun tidur putih yang sudah kekecilan. Dia terlihat seperti hantu kecil yang rapuh di tengah kamar kami yang suram.


"Jangan dekat-dekat jendela, Lily," tegurku pelan. "Uap dingin malam ini jahat. Kalau kau batuk lagi, kita tidak punya uang untuk beli sirup obat."


"Tapi Kak... hujannya berhenti." Lily menempelkan dahinya ke kaca. "Dan awannya... awannya menyala."


Aku menghela napas, meletakkan senapan itu di atas meja. "Itu cuma lampu sorot dari menara pengawas tambang, atau mungkin kilat-"


"Bukan!" Lily menoleh, matanya membulat sempurna. "Warnanya biru! Biru cantik sekali! Seperti batu cincin Ibu!"


Biru?


Belum sempat aku bertanya, suara itu datang.


Bukan suara ledakan mesiu atau guruh yang menggelegar.


Suara itu adalah dengingan tinggi-


tingggggg


seperti suara jari basah yang diputar di bibir gelas kristal, namun diperaskan seribu kali lipat hingga membuat gigi ngilu.


Cahaya Aquamarine meledak dari balik awan.


Seketika, pondok kami yang gelap diterangi cahaya biru menyilaukan. Bayangan perabotan memanjang di dinding. Lampu minyak di atas meja bergetar hebat hingga apinya padam.


"Menunduk!"


Aku menyambar tubuh kecil Lily, menariknya jatuh ke lantai kayu yang dingin, dan mendekapnya erat.


PRANG!


Bumi berguncang. Bukan gempa, tapi hantaman.

Sesuatu baru saja jatuh di Hutan Utara. Sesuatu yang membawa hawa dingin aneh yang merayap masuk melalui celah-celah pintu, membuat bulu kudukku berdiri.


Pagi datang dengan membawa kabut tebal.


Dunia terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara burung gagak yang biasa bertengger di pagar, tidak ada suara kereta uap pengangkut batu bara yang lewat.


Aku sedang sibuk membetulkan engsel pintu depan yang miring akibat guncangan semalam ketika aku menyadari sesuatu.


Kamar Lily kosong.


"Anak itu..." Gerahamku mengertak. Lily dan rasa penasarannya adalah kombinasi yang akan membunuhnya suatu hari nanti.


Aku menyambar senapan di atas meja tanpa peluru, karena pelurunya mahal, tapi cukup untuk menakuti orang jahat dan berlari menuju Hutan Utara. Menuju arah asap biru tipis yang membumbung ke langit.


Jejak kaki kecil Lily terlihat jelas di lumpur, menuntunku melewati semak belukar berduri, hingga akhirnya aku sampai di sana.


Sebuah kawah raksasa menganga di tengah hutan.


Namun, pemandangan di depannya membuat napas di paru-paruku tercekat.

Tidak ada api. Tidak ada pohon hangus.

Area sekitar jatuhnya meteor itu telah berubah wujud. Rumput, ranting pohon, bahkan tanah lumpur... semuanya telah berubah menjadi kristal biru transparan yang berkilauan ditimpa cahaya pagi yang remang.


Dan di tengah kawah kristal itu, ada seseorang.


Seorang pemuda.


Dia duduk di atas bongkahan batu kristal, bertelanjang dada. Celana panjangnya robek di sana-sini, seolah dia baru saja diseret melewati neraka. Rambut hitamnya berantakan, menutupi sebagian wajahnya.


Tapi yang membuatku terpaku bukanlah ketampanannya yang asing, melainkan dada kirinya.


Di kulit pucat itu, terdapat retakan. Seperti keramik yang pecah, retakan itu menjalar dari jantung ke leher dan lengannya, berdenyut dengan cahaya Aquamarine yang redup.


Lily berdiri tak jauh darinya, mematung.


"Lily! Mundur!" teriakku tertahan, takut suara keras akan memicu sesuatu.


Tapi Lily tidak mendengarku. Dia menatap pemuda itu dengan mata berbinar. "Kak... lihat burung itu."


Seekor burung pipit kecil hinggap di bahu telanjang pemuda itu.

Pemuda itu tidak bergerak. Dia hanya melirik burung itu lewat sudut matanya. Tatapan yang kosong. Datar. Tanpa emosi.


Perlahan, dari titik di mana kaki burung itu menyentuh kulit bahunya, kristal biru mulai menjalar.


Burung itu mencicit kaget, mencoba terbang, tapi terlambat. Dalam hitungan detik, burung kecil itu membeku menjadi patung kristal biru yang indah, lalu jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping seperti kaca.


Tring.


Darahku membeku.

Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari pecahan kristal burung ke arah kami.

Mata itu...

Mata Aquamarine yang indah, namun hampa. Seolah dia sedang melihat batu, bukan manusia.


"K-kamu..." Lily gemetar, tapi dia melangkah maju satu jengkal. "Apakah kamu Malaikat?"


Pemuda itu membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu.


DOR!


Suara tembakan memecah keheningan pagi.


Aku tersentak dan menoleh ke arah desa. Asap hitam tebal, kali ini asap kebakaran sungguhan mulai naik ke udara. Teriakan samar terdengar dari kejauhan.

Bandit. Kelompok Topeng Merah. Mereka datang lagi.


"Tidak... tidak sekarang..." Napasku memburu. Aku berlari menyambar tangan Lily. "Ayo pergi! Kita harus lari!"


Tapi pemuda di tengah kawah itu justru melakukan hal yang paling tidak masuk akal.


Cahaya matahari pagi mulai menembus kabut hutan, menciptakan satu sorotan cahaya (spotlight) alami tepat ke arah kawah.


Pemuda itu mendongak. Dia membiarkan sinar matahari menerpa wajah dan dada retaknya. Retakan biru di tubuhnya bersinar sedikit lebih terang, seolah sedang meminum cahaya itu.


Dia menghela napas panjang, lalu bergumam dengan suara serak yang berat, seolah baru bangun dari tidur seratus tahun.


"Berisik."


Dia berdiri perlahan, menepuk debu kristal dari celananya, dan menatap ke arah desa yang terbakar dengan ekspresi seseorang yang waktu tidurnya baru saja diganggu.


(Bersambung)



πŸ’¬ Komentar

Komentar Bab Ini (0)

Masuk untuk berkomentar.

πŸ’¬

Belum ada komentar di bab ini.

← β†’