← Requiem of the fallen star

BAB 5: Berdansa di Tengah Kobaran Api

Bab 6 dari 7 1.801 kata Β± 9 menit 11 September 2026

Dunia meledak dalam warna oranye dan merah.


Saat aku melempar sekop berisi bara api itu ke arah Calya, aku sempat memejamkan mata, takut aku baru saja melakukan pembunuhan. Minyak tanah bertemu api di atas tubuh manusia. Itu resep untuk daging panggang, bukan pertolongan pertama.


WOOSH!


Suara sambaran api terdengar mengerikan, diikuti oleh hawa panas yang menampar wajahku. Lily menjerit di balik punggungku.


Pintu depan rumah kami hancur berantakan.


Serpihan kayu berhamburan ke dalam ruangan. Di ambang pintu, berdiri tiga sosok. Di tengah-tengahnya adalah pria yang tadi berbicara sopan. Dia mengenakan jubah hitam panjang dengan kerah tinggi, topi top hat sutra, dan memegang tongkat jalan berhulu perak. Di belakangnya, dua bandit besar memegang kapak, siap merobek apa saja.


"Nona Rose," kata pria itu dengan senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Tindakan yang kasar sekali. Membakar rumah sendiri demi menghindari tam-"


Kalimatnya terhenti.


Matanya, yang berwarna abu-abu keruh, melebar saat menatap ke arah tungku perapian. Ke arah Calya.


Di sana, di tengah genangan minyak tanah yang terbakar hebat, Calya tidak menjerit. Dia tidak menggeliat kesakitan. Dia tidak menjadi arang.


Dia sedang tertawa.


Bukan tawa manusia waras. Itu adalah tawa kecil, ganjil, dan bergetar, seperti suara kaca yang retak.


Calya berdiri perlahan di tengah lidah api yang menjilati tubuhnya. Pakaiannya yang sudah compang-camping kini habis terbakar, tapi kulitnya... kulit pucatnya tidak melepuh. Justru, retakan biru di dadanya kini bersinar terang benderang, bukan biru laut yang tenang, tapi biru neon yang menyilaukan, bercampur dengan oren dari api yang dia serap.


"Panas..." gumam Calya, kepalanya miring ke kiri dengan sudut yang tidak wajar. Matanya terbuka lebar, pupilnya mengecil seukuran jarum. Dia terlihat seperti orang yang baru saja menenggak sepuluh gelas kopi espresso sekaligus. "Panas... tapi enak. Rasa Karbon Bakar. Sedikit pedas."


Dia menatap tangannya sendiri. Api yang merambat di lengannya tidak membakarnya, melainkan terhisap masuk ke dalam pori-porinya seperti air yang diserap spons kering.


"Tuan Valerius!" teriak salah satu bandit. "Itu monsternya! Dia terbakar!"


Pria bernama Valerius itu mendengus. "Dia tidak terbakar, bodoh. Dia makan. Serang sekarang sebelum dia mencerna energinya!"


Dua bandit itu maju menerjang, kapak mereka terayun tinggi.


"Awas!" teriakku, refleks menarik pelatuk senapan kosongku sebelum sadar itu tidak berguna.


Tapi Calya sudah bergerak. Atau lebih tepatnya, dia meledak.


"Minggir!" Calya menghentakkan kakinya ke lantai.


BOOM!


Lantai kayu di bawah kakinya pecah. Gelombang kejut api biru meledak dari tubuhnya, menghantam kedua bandit itu. Mereka terpental ke belakang seperti boneka kain, menabrak dinding hingga dinding rumah kami jebol.


Calya berdiri di sana, uap panas mengepul dari bahunya. Dia menoleh ke arah Valerius. Senyumnya lebar, matanya liar. Dia sedang dalam kondisi overcharge yang tidak stabil.


"Kau..." Calya menunjuk Valerius dengan jari yang gemetar. "Kau bawa batu bara lagi tidak? Aku masih lapar."


Valerius tidak terlihat takut. Dia justru terlihat... terpesona. Dia mengetukkan tongkat peraknya ke lantai.


"Luar biasa," bisik Valerius. "Sesuai ramalan Kitab Gerhana. Bintang yang Jatuh memakan segalanya."


Ujung tongkat peraknya tiba-tiba mengeluarkan asap hitam pekat. Asap itu tidak naik ke atas, tapi jatuh ke lantai, merayap seperti ular bayangan, lalu memadat menjadi bentuk tombak-tombak runcing.


"Namaku Baron Valerius, dari Ordo Gerhana," ucapnya tenang. "Dan aku di sini untuk mengambil jantungmu, Bintang Kecil."

Tombak bayangan itu melesat ke arah Calya.


"Rose! Lari!" teriak Calya.


Tapi bukannya menghindar, Calya malah menerjang maju. Dia menangkap tombak bayangan itu dengan tangan kosong. CESS! Suara seperti besi panas dicelup ke air terdengar saat tangan Calya (Cahaya) bertemu dengan tombak Valerius (Bayangan). Asap putih mengepul.


"Lari lewat belakang!" teriak Calya lagi, kali ini suaranya lebih panik. "Aku tidak bisa mengontrol suhunya! Aku nak meletup!"


Aku tersadar dari keterpakuanku. Rumah ini bergetar hebat. Api dari tungku yang tadi kusiram minyak kini mulai menyambar gorden dan dinding kayu tua yang kering. Atap mulai runtuh.


"Ayo, Lily!" Aku menyeret adikku yang menangis histeris. Kami berlari menuju pintu belakang, melewati dapur yang mulai dipenuhi asap.


DUAR!


Di ruang tengah, terdengar ledakan lagi. Aku menoleh sekilas. Calya sedang bertarung jarak dekat dengan Valerius. Itu bukan pertarungan bela diri yang indah. Itu brutal. Calya memukul dengan tinju yang dilapisi kristal biru, sementara Valerius menangkis dengan dinding bayangan yang licin. Setiap kali mereka berbenturan, percikan api biru dan hitam muncrat ke segala arah, membakar kursi kesayangan Ayah, meja makan kami, segalanya.


"Rumah kita..." isak Lily.


"Jangan lihat ke belakang!" bentakku, meski hatiku sendiri hancur berkeping-keping.


Kami mendobrak pintu belakang, keluar menuju hujan deras yang mengguyur malam. Udara dingin langsung menusuk kulit, kontras dengan neraka panas di dalam rumah. Hujan deras bercampur lumpur langsung membasahi kami.


Tapi kami tidak berhenti. Aku menarik Lily berlari menuju batas hutan.


"Tunggu!" Lily mengerem langkahnya, sepatunya terbenam di lumpur. "Tuan Calya! Dia masih di dalam!"


"Dia monster, Lily! Dia bisa jaga diri sendi-"


KABOOM!


Ledakan terbesar malam itu terjadi. Atap rumah kami meledak ke udara. Bukan karena api biasa, tapi karena pilar cahaya Aquamarine yang menembus langit-langit, menjulang tinggi menembus awan badai.


Dari balik reruntuhan rumah yang terbakar itu, sesosok tubuh terlempar keluar atau melompat keluar.


Calya mendarat di lumpur, berguling tiga kali, lalu berhenti tepat di depan kaki kami. Dia telungkup. Uap panas mengepul dari punggungnya yang telanjang. Retakan di tubuhnya kini redup total, hitam seperti arang.


"Uhuk..." Calya memuntahkan asap hitam dari mulutnya. "Batu baranya... kualitas buruk... bikin sakit perut..."


Di belakang sana, dari dalam sisa-sisa rumah kami yang kini hanyalah kerangka api, sosok Baron Valerius berjalan keluar dengan tenang. Jubahnya sedikit hangus, tapi dia terlihat masih segar bugar. Dia dilindungi oleh payung yang terbuat dari bayangan padat.


"Hanya segitu?" suara Valerius terdengar menggema, mengalahkan suara hujan. "Tanpa matahari, kau hanyalah baterai bocor yang menyedihkan."


Calya mencoba bangun, tapi tangannya terpeleset di lumpur. "Sial... habis lagi..."


Aku menatap Valerius yang semakin dekat, lalu menatap Calya yang tak berdaya, dan terakhir menatap hutan gelap di belakang kami. Pilihannya sederhana: Mati di sini, atau lari ke tempat yang lebih gelap.


Aku menyambar lengan Calya, memaksanya berdiri. "Bangun, Bintang Bodoh!" teriakku di telinganya. "Kalau kau mau pingsan, jangan sekarang!"


"Berat..." keluh Calya, matanya setengah terpejam. "Gravitasinya... naik lagi..."


"Aku tidak peduli! Lari!"


Aku memapah Calya di sebelah kiri, menggandeng Lily di sebelah kanan. Beban tubuh Calya serasa mematahkan tulang bahuku, tapi adrenalin membuatku melakukan hal mustahil.


Kami berlari menembus hutan.


"Kejar mereka," perintah Valerius santai dari belakang. "Jangan bunuh wadahnya. Tapi dua gadis itu? Habisi saja."


Suara langkah kaki berat dan gonggongan anjing pemburu mulai terdengar mengejar kami.


[Satu Jam Kemudian]


Hutan Blackwood di malam hari adalah tempat yang jahat. Akar pohon mencuat seperti jari nenek sihir yang ingin menjegal kakimu, dan lumpurnya seolah hidup ingin menelanmu bulat-bulat.


Kami berlari tanpa arah, hanya menjauh dari suara anjing. Napas Lily sudah terdengar seperti peluit rusak. Kakiku mati rasa. Dan Calya... dia lebih banyak kuseret daripada lari sendiri.


"Di sana..." Calya menunjuk dengan tangan gemetar ke arah tebing batu kapur di depan. "Ada rongga... goa..."


Kami menyeret diri kami masuk ke celah sempit di tebing itu. Itu adalah bekas lubang ventilasi tambang tua yang sudah lama ditinggalkan. Baunya apek dan lembap, tapi setidaknya kering dari hujan.


Aku menjatuhkan Calya di tanah berpasir, lalu memeluk Lily yang menggigil kedinginan. Kami selamat. Untuk sementara.


Di luar, hujan turun semakin deras, menghapus jejak kaki kami dan bau kami dari anjing pemburu.


Keheningan menyelimuti goa itu, hanya diselingi suara napas kami bertiga yang memburu. Aku menyandarkan punggungku ke dinding goa yang dingin, lalu perlahan merosot duduk. Rasa sakit di bahu dan kakiku mulai menjerit.


Tapi rasa sakit di hatiku lebih parah. Rumahku. Tempat aku tumbuh. Kursi Ayah. Boneka-boneka Lily. Semuanya... habis. Jadi abu.


"Habis," bisikku kosong.


"Apanya yang habis?" tanya Calya dari kegelapan. Suaranya sudah normal, datar dan tanpa emosi seperti biasa.


Rasa marah meledak di dadaku. Aku menyalakan korek api, lalu menyalakan satu-satunya lilin yang sempat kumasukkan ke tas. Cahaya kecil itu menerangi wajah kami. Wajah Lily yang penuh lumpur dan air mata. Dan wajah Calya yang... bersih.


Ya, bersih. Lumpur tidak menempel di kulitnya. Hujan seolah menghindarinya. Dia duduk bersila, menatapku dengan wajah polos tanpa rasa bersalah.


"Rumahku!" bentakku, suaraku pecah. "Semuanya habis karena kau! Karena kau datang ke kawah itu! Karena kau memakan apiku!"


Calya berkedip. "Sebenarnya, secara teknis, rumahmu hancur karena ledakan saat aku melompat. Dan pria bertopi itu yang membakar sisanya."


"Bukan itu intinya!" Aku melempar segenggam pasir ke arahnya. "Kami kehilangan tempat tinggal! Kami tidak punya apa-apa lagi! Kami jadi gelandangan gara-gara menolongmu!"


Lily mulai menangis lagi mendengar teriakanku.


Calya terdiam. Dia menatap pasir yang kulempar, lalu menatap Lily yang menangis. Wajahnya menunjukkan ekspresi bingung. Seolah dia sedang mencoba memecahkan persamaan matematika yang rumit.


"Kenapa kalian menangis?" tanyanya tulus. "Kalian masih hidup. Organnya utuh. Jantung berdetak. Itu kemenangan taktis."


"Kau tidak punya hati ya?!"


"Aku punya," jawab Calya sambil menunjuk dada kirinya yang retak. "Tapi sedang retak. Mungkin fungsinya jadi terganggu."


Aku ingin memukulnya. Sungguh. Tapi aku terlalu lelah. Aku membenamkan wajahku ke lutut dan menangis. Menangis untuk rumahku, untuk nasib adikku, dan untuk ketololan kami.


Hening lama. Tiba-tiba, aku merasakan hawa hangat. Bukan api. Tapi hangat yang nyaman.


Aku mengangkat kepala. Calya telah bergeser mendekat. Dia tidak memelukku atau menghiburku dengan kata-kata manis. Dia hanya... duduk di dekat kami. Retakan di dadanya bersinar redup, memancarkan panas yang stabil seperti pemanas ruangan. Dia menjadikan dirinya sendiri sebagai api unggun untuk kami.


"Suhu tubuh kalian turun," kata Calya kaku, matanya menatap dinding goa, menghindari tatapanku. "Hipotermia bisa mematikan bagi spesies rapuh seperti kalian. Jadi... mendekatlah."


Lily, yang matanya bengkak, merangkak pelan dan memeluk lengan Calya. "Terima kasih, Tuan Calya."


Calya menegang saat dipeluk, seolah dia disentuh oleh virus, tapi dia tidak menolak. Dia membiarkan Lily menyerap panas tubuhnya.


Aku menatapnya. Rasa benciku belum hilang, tapi rasa dinginku perlahan pergi.


"Ke mana kita harus pergi?" tanyaku serak, menatap api biru di dadanya. "Desa Blackwood sudah tidak aman."


Calya merogoh saku celananya yang robek. Dia mengeluarkan sesuatu. Sebuah liontin perak yang tadi dia curi atau ambil dari leher Baron Valerius saat pertarungan.


Dia membuka liontin itu. Di dalamnya ada peta kecil dan lambang matahari hitam.


"Pria topi aneh itu berasal dari Kota Besi," kata Calya. "Di sana, aku merasakan ada pecahan jiwaku yang lain. Potongan yang besar."


"Kota Besi?" mataku membelalak. "Maksudmu... London? Ibukota?"


Calya mengangguk. "Ya. Ke tempat di mana langitnya tidak pernah melihat matahari karena asap mesin."


Dia menatapku tajam. "Antar aku ke sana, Rose. Bantu aku mencari jiwaku. Dan sebagai gantinya... aku akan memberimu emas. Emas sungguhan, bukan batu bara. Aku bisa membuatnya dari timah kalau energiku penuh."


"Kau bisa membuat emas?"


"Aku bintang. Aku adalah pabrik yang menciptakan semua elemen di tabel periodik. Emas, perak, platinum... itu sampah bagiku."


Tawaran yang gila. Dari orang gila. Tapi aku tidak punya rumah. Tidak punya uang. Dan adikku butuh makan.


Aku menghela napas panjang, menatap api biru yang menari di dalam dadanya. Nasib kami sekarang terikat pada bom waktu berjalan ini.


"Baiklah," bisikku. "Kita ke London. Tapi kalau kau meledak di jalan... aku akan membunuhmu."


Calya menyeringai tipis. Seringai pertamanya yang terlihat sedikit... manusiawi. "Sepakat."

πŸ’¬ Komentar

Komentar Bab Ini (0)

Masuk untuk berkomentar.

πŸ’¬

Belum ada komentar di bab ini.

← β†’