BAB 4: Tamu yang Tidak Diundang dan Hukum Termodinamika
"Lily, tinggalkan bonekamu. Ambil selimut dan botol air. Kita pergi lewat pintu belakang."
Suaraku tidak mentolerir bantahan. Tanganku bergerak cepat menyambar tas kanvas usang, memasukkan sisa roti kering, korek api, dan perban. Jantungku berpacu lebih cepat daripada piston kereta uap.
Di sudut ruangan, makhluk itu Calya, masih duduk di lantai dengan santai.
Pemandangan itu sungguh absurd hingga membuat kepalaku pening. Dia memegang bongkahan batu bara hitam legam dengan dua jari, menelitinya seolah itu adalah truffle mahal atau kaviar, lalu menggigitnya lagi.
Krak. Kriuk. Glek.
Dia menelan batu keras itu tanpa tersedak. Tidak ada ekspresi jijik. Justru, dia terlihat sedikit lebih... hidup. Warna kulitnya yang tadinya pucat mayat kini sedikit merona. Retakan biru di dadanya yang tadi redup kini berdenyut stabil, memancarkan hawa hangat seperti tungku perapian yang menyala nyaman.
"Kak Rose..." Lily merengek, memeluk boneka beruangnya yang matanya tinggal satu. "Kita tidak boleh meninggalkan Tuan Malaikat. Di luar dingin. Dia tidak punya baju."
"Dia bukan malaikat, Lily," desisku tajam sambil mengikat tali sepatu botku. "Malaikat tidak makan batu bara. Dia... sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbahaya."
Aku menoleh ke arah Calya. "Dan kau. Jangan ikuti kami. Tetap di sini, habiskan saja semua batu bara itu kalau kau mau, lalu pergilah."
Calya berhenti mengunyah. Dia menatapku dengan mata Aquamarine nya yang jernih. Ada kepolosan yang menjengkelkan di sana.
"Kenapa kalian mau pergi?" tanyanya datar. Suaranya terdengar lebih bertenaga dibanding sebelumnya.
"Karena kau monster!" seruku frustrasi. "Kau mengubah manusia jadi debu! Kau makan batu! Dan bandit-bandit itu pasti akan kembali membawa pasukan!"
"Oh." Calya mengangguk pelan, seolah aku baru saja memberitahunya ramalan cuaca hari ini. "Logis."
Dia berdiri. Debu hitam batu bara menempel di sudut bibirnya. Dia mengusapnya dengan punggung tangan.
"Tapi, kalau kalian keluar sekarang, kalian akan mati," lanjutnya tenang.
Gerakanku terhenti di ambang pintu belakang. "Apa maksudmu?"
"Ada getaran di tanah," kata Calya sambil menunjuk ke lantai kayu dengan kakinya yang telanjang. "Sekitar dua puluh... tidak, tiga puluh pasang kaki kuda. Datang dari arah timur dan selatan. Mereka mengepung radius satu kilometer."
Aku menahan napas. Telingaku yang manusia biasa ini tidak mendengar apa-apa selain suara angin dan gesekan ranting pohon.
"Kamu bohong," tuduhku, meski suaraku terdengar ragu.
"Bintang tidak berbohong. Kami hanya menyatakan fakta," jawabnya. Dia berjalan mendekati jendela, mengintip sedikit dari celah papan kayu yang kupaku bulan lalu. "Mereka membawa senjata mesiu. Dan ada satu... energi yang tidak enak. Baunya seperti belerang busuk."
Calya menoleh padaku. "Saran ku kalian tetap di dalam. kayu ini cukup tebal untuk menahan peluru, tapi tidak akan bertahan lama kalau mereka bawa meriam."
Aku melepaskan peganganku pada gagang pintu. Lututku lemas. Kalau benar kami dikepung, lari ke hutan sama saja bunuh diri. Kami terjebak. Terjebak di dalam gubuk reyot ini bersama seorang pemuda pemakan batu yang bisa meledakkan orang dengan jentikan jari.
Aku menghela napas panjang, menekan rasa takutku dalam-dalam. "Baiklah. Kita bertahan di sini."
Aku berbalik menatap Calya dengan tatapan tajam. "Tapi ada aturannya. Satu: Jangan sentuh Lily. Dua: Jangan hancurkan perabotanku. Tiga: Jelaskan padaku... apa kau sebenarnya?"
Calya miringkan kepala, berpikir sejenak. "Saya Calya. Inti Bintang kelas A-Type. Atau setidaknya... dulu begitu."
"Inti Bintang?" ulangku skeptis. "Maksudmu bintang yang di langit itu?"
"Ya."
"Dan kau jatuh ke sini?"
"Masalah teknis. Bumi kalian menyebalkan."
"Dan kenapa kau makan batu bara?"
Calya mengangkat sisa batu bara di tangannya. "Karbon. Tubuh manusia tiruan ini butuh kalori, tapi inti ku butuh reaksi fusi. Batu bara punya Karbon tinggi. Saat masuk ke lambung, aku pecah atomnya untuk jadi energi."
"Rasanya ga enak," tambahnya jujur. "Terlalu banyak debu. aku lebih suka Inti Hidrogen murni, atau kalau terpaksa, magma gunung berapi."
Aku memijat pelipisku yang berdenyut. Percuma. Makin dia jelaskan, makin aku merasa gila.
"Terserah," putusku. "Lily, bantu Kakak memindahkan lemari laci ke depan pintu depan. Kita buat barikade."
"Siap, Kak!" Lily memberi hormat kecil, lalu berlari kecil ke arah lemari laci tua yang beratnya minta ampun.
Aku bersiap mendorong lemari itu, mengumpulkan tenaga.
"Biar ku bantu," kata Calya.
Sebelum aku sempat melarang, dia sudah memegang ujung lemari itu dengan satu tangan. Tanpa kuda-kuda, tanpa wajah mengejan, dia mengangkat lemari kayu jati solid itu seolah itu kotak kardus kosong.
Sret.
Dia menaruhnya di depan pintu dengan presisi. Tidak ada suara gedebuk. Pelan dan halus.
Aku melongo. Lemari itu butuh tiga orang pria dewasa untuk dipindahkan saat kami pindahan dulu.
Calya menepuk tangannya. "Selesai. Ada lagi?"
Aku menelan ludah. "Jendela... tolong paku jendela itu dengan papan sisa di gudang."
Calya mengangguk. Dia mengambil papan tebal dan paku besi besar. Masalahnya, kami tidak punya palu di ruangan ini. Palunya ada di luar.
"Tunggu, aku ambil palu duβ"
BLETAK.
Aku terlambat. Calya tidak butuh palu. Dia menekan paku besi itu menembus papan dan kusen jendela menggunakan... jempolnya.
Dia menekan paku baja itu masuk ke kayu keras seperti menekan paku payung ke gabus styrofoam.
Bletak. Bletak. Bletak.
Dalam sepuluh detik, jendela itu tertutup rapat.
"Struktur rumah ini rapuh," komentar Calya sambil mengelus dinding kayu kami. "Rayapnya banyak. Harusnya kalian tinggal di gua. Lebih stabil."
Aku tidak tahu harus berterima kasih atau takut. Kekuatannya mengerikan. Kalau dia mau, dia bisa mematahkan leherku semudah mematahkan ranting kering. Tapi melihatnya berdiri di sana, dengan wajah datar dan serbuk batu bara di pipi, dia tidak terlihat seperti pembunuh.
Dia terlihat seperti... alat berat yang salah tempat.
Matahari mulai terbenam. Langit di luar berubah dari abu-abu menjadi ungu gelap, lalu hitam pekat.
Dan seiring hilangnya cahaya matahari, aku melihat perubahan pada Calya.
Gerakannya melambat. Bahunya merosot. Cahaya biru di dadanya meredup drastis hingga hanya terlihat seperti garis nadi varises yang samar.
Dia duduk di lantai, bersandar pada lemari yang tadi dia pindahkan. Matanya layu.
"Kau kenapa?" tanyaku waspada, takut dia butuh makan batu bara lagi (stok kami tinggal sedikit).
"Malam..." gumamnya serak. Suaranya terdengar berat, seperti orang mabuk. "Mode hemat daya..."
"energimu habis kalau malam?"
kepalanya terkantuk-kantuk. "Matahari... dia pergi tidur... curang..."
Detik berikutnya, kepalanya jatuh ke dada. Dia tertidur. Pulas.
Aku memberanikan diri mendekat. Dalam tidurnya, wajahnya tidak sedingin saat bangun. Dia terlihat kesakitan. Alisnya berkerut. Tangannya mencengkeram dadanya sendiri.
Aku melihat retakan di lehernya. Kulit di sekitar retakan itu merah dan melepuh, seolah ada api yang membakar dari dalam. Menjadi wadah bagi bintang pasti menyakitkan bagi tubuh manusia.
"Kak," bisik Lily yang duduk di sampingku. "Tuan Calya kasihan ya."
"Kenapa kasihan? Dia kuat begitu."
"Tadi saat Kakak di dapur, dia bilang sama Lily... dia kangen rumah."
Aku terdiam. Kangen rumah. Perasaan yang sangat manusiawi untuk makhluk luar angkasa.
"Kita juga kangen rumah, Lily," bisikku sambil mengelus rambut adikku. "Rumah yang dulu. Sebelum Ayah meninggal. Sebelum tambang ini meracuni udara."
KRIET.
Suara langkah kaki di beranda depan membuyarkan lamunanku.
Langkah kaki yang berat. Suara sepatu boot tentara yang menginjak lantai kayu tua. Bukan satu orang. Banyak.
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Mereka di sini.
Calya masih tertidur pulas, mendengkur halus. Aku mengguncang bahunya. "Hei! Bangun! Bangun!"
Dia tidak bergerak. Tubuhnya terasa berat dan dingin seperti batu kali.
"Sial," umpatku. "Dia benar-benar mati suri kalau malam."
Dari celah bawah pintu, aku melihat bayangan-bayangan panjang bergerak. Lalu, suara ketukan halus terdengar di pintu. Ketukan yang sopan, tapi mengerikan.
Tok. Tok. Tok.
"Selamat malam," suara pria yang halus dan berwibawa terdengar dari luar. Bukan suara bandit kasar tadi pagi. "Maaf mengganggu waktu istirahat kalian. Kami mencari barang yang hilang. Sebuah... meteor berwarna biru."
Aku memeluk Lily erat, membekap mulutnya. Tanganku yang satu lagi meraba-raba mencari pisau dapur.
"Kami tahu dia di dalam," lanjut suara itu. "Baunya sangat khas. Bau ozon dan debu bintang."
Hening sejenak.
"Buka pintunya, Nona Rose. Atau kami akan membakarnya bersama kalian di dalamnya."
Bagaimana dia tahu namaku?
Aku menatap Calya yang masih pingsan. Harapanku satu-satunya sedang tidur siang (atau tidur malam). Kami sendirian.
Aku menatap tungku perapian. Masih ada bara api di sana. Dan di sampingnya, ada sebotol minyak tanah. Ide gila melintas di kepalaku.
Jika Calya butuh panas untuk bangun... mungkin aku harus "memanaskannya".
"Lily, tutup telingamu," bisikku.
Aku mengambil botol minyak tanah, membuka tutupnya, dan menatap Calya. Maafkan aku kalau ini membakarmu, Bintang Bodoh.
Aku menyiramkan minyak tanah itu ke tubuh Calya, lalu mengambil satu sekop bara api dari tungku.
Pintu depan mulai didobrak. BRAK! Kayu tua itu retak.
"Bangunlah!" teriakku sambil melempar bara api itu tepat ke dada Calya yang basah oleh minyak.
(Bersambung)
Komentar Bab Ini (0)
Masuk untuk berkomentar.
Belum ada komentar di bab ini.