BAB 2: Jangan Halangi Matahari
Asap hitam mengepul semakin tebal, menutupi sebagian matahari pagi yang baru saja mencoba mengintip. Bau kayu terbakar dan mesiu menusuk hidung, bercampur dengan aroma ozon aneh yang menguar dari tubuh pemuda di tengah kawah itu.
"Kak Rose! Itu Bapak Tua Miller!" Lily menunjuk ke arah perbatasan hutan.
Aku menoleh dan menahan napas. Dari balik pepohonan, tiga orang pria bertubuh kekar muncul. Mereka mengenakan mantel kulit lusuh yang penuh tempelan logam, sepatu boot berat, dan yang paling mengerikan... topeng kain berwarna merah darah yang menutupi separuh wajah.
Bandit Topeng Merah.
Mereka menyeret Pak Miller, tetangga kami yang sudah tua, lalu melemparnya ke tanah seperti karung beras.
"Cari yang lain!" teriak salah satu bandit yang membawa pistol flintlock besar di pinggangnya. "Bos bilang desa ini menambang tembaga ilegal. Pasti ada simpanan di suatu tempat!"
Mata bandit itu.. sebuah mata yang picik dan kuning tiba-tiba menangkap sosok kami. Aku, Lily, dan... pemuda aneh itu.
"Wah, wah. Lihat apa yang kita temukan di sini," seringainya melebar, menampilkan gigi-gigi yang menghitam. "Dua tikus kecil dan... apa itu? Mayat hidup?"
Aku langsung menyimpan tubuh kecil lily ke belakang punggungku. Tanganku yang berkeringat mencengkeram senapan musket tua Ayah sekuat tenaga. Aku mengarahkan larasnya tepat ke kepala bandit itu.
"Jangan mendekat!" teriakku. Suaraku bergetar, merusak efek gertakan yang kucoba bangun. "Pergi atau kutembak!"
Bandit itu tertawa. Teman-temannya ikut terkekeh. "Nona manis, senapan itu bahkan tidak ada pemicunya. Kau mau memukulku dengan gagangnya?"
Jantungku serasa jatuh ke perut. Sial. Aku lupa kalau pelatuknya patah minggu lalu.
Bandit itu melangkah maju, mengabaikan ancamanku. "Minggir. Kami akan urus anak kecil itu dan... hei, kau!"
Dia berteriak pada pemuda di tengah kawah.
Pemuda itu masih berdiri di sana. Dia tidak melihat ke arah bandit. Dia tidak melihat ke arahku. Dia sedang melakukan hal yang paling tidak masuk akal dalam situasi hidup dan mati ini.
Dia sedang merentangkan kedua tangannya ke samping, mendongakkan kepalanya ke atas, dan memejamkan mata dengan khidmat. Seperti bunga matahari yang sedang berfotosintesis.
"Hoy! Aku bicara padamu, orang aneh!" bentak si bandit, merasa diabaikan.
Pemuda itu tidak bergerak. Bibirnya bergerak-gerak pelan, gumaman samar terdengar terbawa angin. "...geser dikit... ah, di situ hangat..."
Apakah dia gila?
"Dengar tidak sih?!" Si bandit, yang kesabarannya setipis tisu, mencabut pistolnya dan menembak ke arah kaki Pemuda itu.
DOR!
Peluru timah menghantam tanah kristal, hanya beberapa senti dari kaki telanjang Pemuda itu. Serpihan kristal biru muncrat ke udara.
Di saat itulah, dunia seakan berhenti berputar.
Pemuda itu membuka matanya. Bukan mata malas yang tadi kulihat. Kali ini, pupil matanya mengecil tajam. Retakan biru di dadanya berdenyut kencang, seolah jantungnya baru saja dipacu paksa.
Dia menatap bandit itu. Lalu, dia menatap matahari yang kini tertutup gumpalan asap hitam dari pistol si bandit.
"Kau..." Suara Pemuda itu terdengar rendah, namun getarannya terasa sampai ke tulang sumsumku. "Kau menutupi cahayanya."
Bandit itu mengernyit. "Hah? Cahaya apa-"
"Berisik."
Pemuda itu mengangkat tangan kanannya. Gerakannya santai, seolah dia hanya ingin mengusir lalat.
Tidak ada mantra. Tidak ada teriakan jurus. Hanya satu jentikan jari.
Ting.
Udara di sekitar bandit itu mendadak terdistorsi. Seolah realitas di sana sedang dipelintir. Dalam sekejap mata, api berwarna Aquamarine biru kehijauan yang indah namun mengerikan meledak dari tanah di bawah kaki si bandit.
Tidak ada suara jeritan. Karena api itu tidak membakar daging. Api itu mengkristalkan segalanya.
Dalam hitungan detik, bandit itu membeku menjadi patung kristal biru yang berkilauan, lalu hancur lebur menjadi debu halus yang tertiup angin.
Hening.
Dua bandit sisanya mematung. Rokok yang dipegang salah satu dari mereka jatuh ke tanah. Aku menahan napas, mataku terbelalak ngeri. Pak Miller yang tergeletak di tanah bahkan lupa cara merintih.
"M-monster..." bisik salah satu bandit yang tersisa. "LARI! ITU PENYIHIR!"
Mereka berbalik dan lari tunggang langgang, menabrak pepohonan, meninggalkan teman mereka yang sudah menjadi debu biru di udara.
Aku masih berdiri mematung, lututku lemas. Senapan di tanganku jatuh berdebum ke tanah. Apa... apa itu tadi?
Lily, sebaliknya, menatap pemuda itu dengan mulut terbuka lebar. "Hebat..."
Pemuda itu menurunkan tangannya. Cahaya biru di nadi dadanya meredup, kembali menjadi retakan pucat. Bahunya merosot turun.
Dia menoleh ke arah kami. Wajahnya kembali datar, tanpa ekspresi kemenangan sedikitpun. Justru, dia terlihat... kesal?
Dia berjalan sempoyongan mendekati kami.
Aku sontak mundur, menarik Lily. "J-jangan mendekat!"
Pemuda itu berhenti. Dia menatapku atau lebih tepatnya, menatap ke arah belakangku lalu menghela napas panjang. "Minggir," katanya datar.
"A-apa?"
"Kau menghalangi sinar matahari. Minggir."
Dia melangkah melewatiku begitu saja, mendorong bahuku pelan, lalu kembali berdiri di titik di mana matahari bersinar paling terang di antara celah pepohonan.
Dia kembali merentangkan tangan, mendongak, dan memejamkan mata.
"Baru lima persen..." gumamnya pelan, terdengar sangat frustrasi.
"Matahari bodoh. Kenapa sinarnya lemah sekali di planet ini? Apa dia sedang sakit?"
Aku menatap punggungnya dengan bingung. Ketakutanku perlahan bercampur dengan rasa absurd yang luar biasa. Orang ini baru saja memusnahkan manusia jadi debu dalam sedetik... cuma karena dia ingin berjemur?
"Kak Rose," bisik Lily, menarik ujung bajuku. "Kurasa... Tuan Malaikat baterainya habis."
Aku menelan ludah, menatap debu biru yang beterbangan, lalu menatap sosok punggung kurus yang sedang sibuk menyerap vitamin D itu.
Entah ini anugerah atau kutukan... sepertinya hidup kami yang tenang sudah berakhir hari ini.
(Bersambung)
Komentar Bab Ini (0)
Masuk untuk berkomentar.
Belum ada komentar di bab ini.