Chapter 2 — Serigala, Api, dan Gelar yang Tidak Pernah Ia Minta
Pagi di Desa Ellwood dimulai dengan sesuatu yang membuat Aiko nyaris tersedak roti gandum yang sedang ia kunyah.
Ada antrean di depan rumah Bram.
Bukan antrean kecil. Setidaknya dua puluh orang penduduk desa berdiri berjejer di halaman, sebagian membawa keranjang berisi telur, sebagian membawa sekantung sayuran, seorang nenek tua bahkan membawa seekor ayam hidup yang berkotek-kotek protes di pelukannya.
"Itu... itu semua buat siapa?" tanya Aiko, masih setengah mengantuk, menatap dari jendela kamar tamu tempat ia menginap semalam.
"Untuk anda, Tuan Aiko," jawab Bram, yang sudah berdiri di sampingnya dengan senyum lebar, seolah ini adalah hal paling wajar di dunia. "Berita tentang keberanian anda menyebar semalaman. Setiap keluarga di desa ini ingin menunjukkan rasa terima kasih mereka."
Aiko menatap kerumunan itu dengan perasaan campur aduk antara tersanjung dan panik.
Ini baru satu malam, pikirnya. Kalau begini terus, gimana caranya aku bisa hidup normal di dunia ini?
Dia turun ke bawah dengan langkah yang sengaja dibuat pelan, mencoba menyusun kalimat penolakan yang sopan di kepalanya. Tapi begitu dia muncul di pintu, seluruh kerumunan itu langsung terdiam, lalu mulai bertepuk tangan pelan, seperti menyambut seorang bangsawan.
"Itu dia! Pahlawan yang menyelamatkan Paman Bram!"
"Lihat, cara dia berjalan saja sudah berbeda dari orang biasa!"
Aiko sebenarnya cuma berjalan biasa — sedikit kaku karena baru bangun tidur dan masih menyesuaikan diri dengan tubuh barunya yang lebih tinggi dari tubuh lamanya. Tapi tentu saja, tidak ada yang melihatnya seperti itu.
"S-selamat pagi," katanya, canggung, sambil melambai kaku ke arah kerumunan.
Sorakan kecil pun pecah, seolah dia baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa dengan lambaian tangannya.
Aura ini benar-benar di luar akal sehat, batin Aiko, mulai menyerah untuk memahami logikanya. Tapi... setidaknya ini nggak berbahaya. Cuma bikin canggung.
Kepala Desa Ellwood — seorang pria tua bernama Godric dengan janggut putih panjang dan tongkat kayu berukir — mengundang Aiko untuk duduk di balai desa siang itu, dikelilingi oleh para tetua lainnya.
"Tuan Aiko," kata Godric, dengan nada serius yang membuat Aiko otomatis duduk lebih tegak. "Desa kami kecil, dan kami tidak punya banyak yang bisa kami tawarkan. Tapi kami ingin memberikan penghormatan yang pantas untuk tindakan anda kemarin."
Dia menepuk tangannya, dan dua pemuda desa membawa masuk sebuah kotak kayu panjang, meletakkannya di hadapan Aiko dengan hati-hati, seolah membawa relik suci.
Di dalam kotak itu, tergeletak sebilah pedang pendek dengan sarung kulit yang sudah agak usang, tapi jelas dirawat dengan baik.
"Ini pedang milik cucu saya," kata Godric, suaranya melembut. "Dia gugur tiga tahun lalu, melawan Grimm yang menyerang ladang di perbatasan desa. Saya rasa dia akan senang kalau pedang ini digunakan oleh seseorang yang benar-benar pantas menyandang gelar pahlawan."
Aiko menatap pedang itu, dan untuk sesaat, rasa bersalah menyergap dadanya.
Aku bahkan nggak bisa megang pedang dengan benar. Kalau aku terima ini, aku cuma bakal jadi... penipu. Orang yang menerima penghormatan buat sesuatu yang nggak pernah aku lakukan.
Dia membuka mulut untuk menolak—
"Saya akan menerimanya," katanya, dan kata-kata itu keluar begitu saja, mengejutkan dirinya sendiri.
Tunggu, kenapa aku bilang gitu?!
Tapi begitu dia melihat mata Godric yang berkaca-kaca, dan wajah para tetua yang berbinar penuh haru, Aiko menyadari sesuatu: menolak pemberian ini, di tengah momen seemosional ini, mungkin akan lebih menyakiti mereka daripada menerimanya.
Toh, pikirnya, mencoba menenangkan diri, aku nggak akan pernah benar-benar pakai ini buat bertarung. Anggap aja... kenang-kenangan.
"Terima kasih atas kehormatan ini," katanya, membungkuk sedikit, menerima kotak kayu itu dengan kedua tangan. "Saya akan menjaganya baik-baik."
"Lihat caranya membungkuk," bisik seorang tetua kepada tetua lainnya. "Penuh rasa hormat, tapi tetap berwibawa. Sungguh sikap seorang ksatria sejati."
Aiko, yang sebenarnya cuma membungkuk karena canggung dan tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya, hanya bisa tersenyum kikuk sambil menahan diri untuk tidak menghela napas keras-keras.
Sore harinya, setelah acara penghormatan yang membuatnya lelah secara emosional lebih dari lelah secara fisik, Aiko duduk di beranda rumah Bram bersama pedagang tua itu, menatap matahari yang mulai turun di ufuk barat.
"Tuan Aiko akan pergi ke mana selanjutnya?" tanya Bram, sambil menuangkan teh herbal ke dua cangkir kayu.
Aiko menghela napas panjang. Ini pertanyaan yang sudah dia pikirkan sejak semalam.
"Aku belum tahu banyak tentang dunia ini," katanya jujur — meskipun tentu saja dia menyembunyikan fakta bahwa dia bahkan belum genap dua hari berada di dunia ini. "Aku pikir aku perlu pergi ke kota yang lebih besar. Belajar lebih banyak. Cari cara untuk... bertahan hidup."
"Ah, kalau begitu, Kota Millbrook adalah pilihan yang tepat," kata Bram, matanya berbinar antusias. "Itu kota dagang terbesar di wilayah barat Kerajaan Feltrania. Ada Balai Petualang di sana — tempat orang-orang seperti anda mendaftar untuk menerima misi resmi dari kerajaan. Kebetulan, aku sendiri akan berangkat ke sana besok pagi untuk mengantarkan sisa daganganku. Kalau anda tidak keberatan, anda bisa ikut dengan rombonganku."
Aiko mengangguk. "Aku akan sangat berterima kasih."
Adventurer's Guild, pikirnya, sesuatu di dalam dirinya — bagian yang dulu selalu bersemangat setiap kali menemukan soal matematika baru yang belum pernah dia pecahkan — mulai menyala. Ini beneran kayak di novel-novel yang dulu aku baca diam-diam. Mungkin di sana aku bisa cari tahu lebih banyak soal dunia ini. Soal kekuatanku. Soal... ramalan yang disebut dewa itu.
Dia menatap pedang pemberian Godric yang tersandar di sudut ruangan, lalu menatap tangannya sendiri.
Aku nggak bisa jadi petarung. Tapi mungkin... ada cara lain buat jadi berguna di dunia ini.
Rombongan Bram berangkat keesokan paginya — tiga gerobak dagang, delapan orang termasuk Aiko, dan seorang pemimpin karavan bernama Toren, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di lengan kirinya, yang ternyata adalah mantan anggota Balai Petualang sebelum pensiun dini karena cedera.
"Jadi kamu yang bikin geger seantero Ellwood," kata Toren, menatap Aiko dengan pandangan menilai saat mereka berjalan beriringan di samping gerobak paling depan. "Bram cerita panjang lebar soal 'strategi brilian'-mu ngadepin bandit."
Aiko meringis dalam hati. "Itu... agak dilebih-lebihkan."
"Kerendahan hati," gumam Toren, mengangguk-angguk sok mengerti, sama sekali tidak mendengarkan protes Aiko — pola yang mulai terasa sangat familiar bagi Aiko sekarang. "Bagus. Petarung sejati emang gitu, nggak suka pamer."
Aku bahkan bukan petarung, batin Aiko, mulai lelah membantah, dan memutuskan untuk menyerah saja.
Perjalanan ke Millbrook memakan waktu dua hari, melewati jalan setapak yang membelah Hutan Ashvale sebelum keluar ke dataran terbuka. Aiko menghabiskan waktu perjalanan dengan menyerap informasi sebanyak mungkin dari Toren dan anggota karavan lainnya — tentang sistem Balai Petualang, tentang peringkat misi dari F sampai S, tentang jenis-jenis Grimm yang umum ditemui, tentang struktur Kerajaan Feltrania yang diperintah oleh seorang raja tua dengan tiga anak yang saling bersaing untuk tahta.
Otaknya — yang sekarang bekerja dengan kapasitas yang bahkan dia sendiri sulit percaya — menyerap semua informasi itu seperti spons, menyusunnya menjadi peta mental yang rapi, mencari pola, mencari celah, mencari cara untuk bertahan hidup di dunia yang jelas-jelas tidak dirancang untuk orang sepertinya.
Hari kedua perjalanan, saat matahari mulai condong ke barat dan bayangan pepohonan memanjang di jalan setapak, semuanya berubah.
"Toren." Suara salah satu penjaga karavan, seorang wanita muda bernama Ilsa, terdengar tegang. "Ada gerakan di semak-semak. Kiri dan kanan."
Toren langsung waspada, tangannya bergerak ke gagang pedang di pinggangnya. "Berapa banyak?"
"Nggak yakin. Tapi... banyak."
Aiko merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini beda dari insiden bandit kemarin. Dia bisa merasakannya — sesuatu di udara yang berubah, hening yang tidak wajar, seolah seluruh hutan menahan napas.
Lalu, dari balik semak-semak di kedua sisi jalan, muncul bentuk-bentuk gelap — serigala, tapi bukan serigala biasa. Tubuh mereka lebih besar dari serigala normal, bulu mereka hitam pekat dengan garis-garis merah menyala yang berdenyut seperti bara api di sekujur tubuhnya, dan mata mereka bercahaya kuning pucat di tengah remang senja.
"Grimm Wolf," gumam Toren, wajahnya memucat. "Sekawanan penuh. Ini... ini terlalu banyak buat rombongan dagang biasa."
Aiko menghitung dengan cepat — otaknya secara otomatis memproses jumlah yang terlihat. Delapan... tidak, sepuluh. Mengelilingi dari dua arah. Formasi ini... mereka sengaja menjebak jalur, bukan menyerang secara acak.
"Semua orang, bentuk lingkaran! Lindungi gerobak!" teriak Toren, menghunus pedangnya.
Kekacauan meletus. Anggota karavan lainnya — total lima orang bersenjata selain Toren dan Ilsa — bergerak membentuk formasi pertahanan mengelilingi gerobak, sementara Bram dan dua pedagang lain yang tidak bersenjata berlindung di belakang.
Aiko berdiri mematung di tengah kekacauan, jantungnya berdegup keras, pikirannya berputar liar.
Ini nyata. Ini beneran nyata. Ini bukan tiga bandit amatir yang kebetulan kepeleset. Ini sepuluh monster yang keliatannya beneran mau bunuh kita semua.
Salah satu Grimm Wolf melompat ke arah salah satu penjaga karavan, rahangnya yang penuh taring tajam terbuka lebar. Penjaga itu berhasil menangkis dengan perisainya, tapi terjatuh ke belakang karena kekuatan hantaman yang jauh di luar dugaannya.
"Mundur, jangan biarkan mereka mengepung!" teriak Toren, sambil menebas seekor Grimm Wolf lain yang menerjang dari sisi kiri.
Aiko merasakan tangannya gemetar. Naluri paling dasar dalam dirinya berteriak untuk lari, untuk bersembunyi, untuk melakukan apa pun selain berdiri di tengah pertempuran yang jelas-jelas di luar kemampuannya.
Tapi kakinya tidak bergerak. Bukan karena keberanian — dia cukup jujur pada dirinya sendiri untuk mengakui itu — tapi karena otaknya, di tengah kepanikan, tetap bekerja, menganalisis, mencari pola.
Sepuluh ekor. Formasi mengepung dari dua arah, artinya ada yang mengarahkan mereka — atau setidaknya naluri kawanan yang cukup terkoordinasi. Garis merah di tubuh mereka... itu bukan cuma warna. Itu berdenyut, seperti mengikuti detak jantung. Kalau itu semacam indikator energi...
Salah satu Grimm Wolf, yang tadi menyerang dari sisi kanan, tiba-tiba berbalik dan menerjang lurus ke arah Aiko — mungkin karena dia berdiri paling jauh dari formasi pertahanan, terlihat sebagai target termudah.
"AIKO, AWAS!" teriak Bram, suaranya pecah karena panik.
Waktu terasa melambat. Aiko melihat Grimm Wolf itu melompat ke arahnya, rahangnya terbuka, taring-taringnya berkilau memantulkan cahaya senja yang memerah.
Dalam kepanikan mutlak, tubuh Aiko bereaksi tanpa perintah otak sadarnya — dia melompat mundur, tersandung akar pohon di belakangnya, dan jatuh terjengkang tepat ke arah unggun api kecil yang tadi disiapkan salah satu anggota karavan untuk memasak makan malam, menendang panci berisi bara api dan kayu bakar itu tanpa sengaja ke udara.
Bara api dan percikan kayu terbakar berhamburan tepat ke arah Grimm Wolf yang melompat ke arahnya.
Auman kesakitan menggelegar. Grimm Wolf itu terjungkal ke samping, bulunya yang gelap tersambar api, dan detik berikutnya, seluruh kawanan Grimm Wolf lainnya berhenti bergerak — seolah reaksi satu individu itu menular ke seluruh kawanan melalui semacam koneksi naluriah.
Mereka semua mundur selangkah, mata kuning mereka menatap waspada ke arah api yang mulai menyebar kecil di rerumputan kering.
Mereka takut api, sadar Aiko, masih terjengkang di tanah, jantungnya berdebar liar, tapi otaknya — meskipun panik — tetap menyusun kesimpulan dengan cepat. Tentu saja. Warna merah di tubuh mereka itu mungkin semacam sensitivitas terhadap panas atau cahaya terang. Mereka predator malam. Cahaya terang dan api pasti mengganggu penglihatan mereka, atau memicu respons defensif alami.
"S-semua orang!" teriak Aiko, suaranya sendiri mengejutkannya karena terdengar jauh lebih tegas dari yang dia rasakan. "Nyalakan api! Obor, apa pun yang bisa terbakar—mereka takut cahaya!"
Untuk sesaat, semua orang membeku, menatap Aiko yang masih terjengkang di tanah dengan pakaian sedikit hangus dan wajah pucat pasi.
Lalu Toren, dengan mata yang membelalak seolah baru saja menyaksikan wahyu, berteriak, "KALIAN DENGAR DIA! NYALAKAN OBOR, SEKARANG!"
Kekacauan berikutnya berlangsung cepat — anggota karavan menyambar obor cadangan dari gerobak, menyalakannya dari sisa api unggun, mengacungkannya ke arah kawanan Grimm Wolf yang mulai gelisah, melolong resah, sebelum akhirnya satu per satu mundur ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan medan pertempuran dengan ekor di antara kaki mereka.
Hening.
Napas semua orang memburu, tapi mereka semua selamat. Beberapa luka gores, satu penjaga dengan lengan yang mungkin patah karena hantaman tadi — tapi semua orang masih hidup.
Aiko masih terduduk di tanah, tangannya gemetar hebat, baru sepenuhnya menyadari betapa dekatnya dia dengan kematian barusan.
Aku... aku beneran cuma tersandung akar pohon, pikirnya, antara syok dan ingin tertawa histeris. Itu bukan strategi. Itu cuma aku panik dan jatuh ke arah yang salah—atau tepat, entahlah—
"LUAR BIASA!"
Suara Toren memecah lamunannya. Pria bertubuh kekar itu berjalan cepat ke arahnya, mata berbinar penuh kekaguman, lalu berlutut dan menepuk bahu Aiko dengan keras.
"Kamu dengan sengaja memancing serangan Grimm Wolf itu ke arahmu, tahu persis kalau kamu bakal tersandung ke arah unggun api, menggunakan tubuhmu sendiri sebagai umpan sekaligus pemicu untuk menyebarkan bara api ke seluruh kawanan—dan dalam sepersekian detik, kamu udah menganalisis kelemahan mereka terhadap cahaya dan mengomando seluruh rombongan buat eksekusi taktik itu! Aku sudah dua belas tahun jadi petualang, dan aku belum pernah lihat analisis medan pertempuran secepat dan seakurat itu!"
Aiko membuka mulut, ingin protes, ingin menjelaskan bahwa dia sebenarnya cuma orang panik yang beruntung — tapi melihat wajah semua orang di sekelilingnya, mata yang berbinar penuh rasa syukur dan kekaguman, kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.
Aura ini, batinnya, menghela napas dalam hati sambil membiarkan Toren membantunya berdiri. Bahkan pas aku hampir mati beneran, tetep aja dilihat kayak pahlawan. Dunia ini... beneran nggak masuk akal.
Bram, yang wajahnya masih pucat karena ketakutan tadi, mendekat dengan mata berkaca-kaca. "Tuan Aiko menyelamatkan kami semua. Sekali lagi."
"Aku... cuma kebetulan—"
"Kerendahan hati yang luar biasa," potong salah satu anggota karavan lain, mengangguk-angguk penuh kekaguman, sama seperti Bram kemarin.
Aiko menyerah untuk mencoba menjelaskan. Dia hanya bisa menghela napas panjang, menatap sisa-sisa api unggun yang masih menyala kecil di tengah jalan, dan merasakan sesuatu yang campur aduk — antara syukur karena masih hidup, geli karena kesalahpahaman yang terus menumpuk, dan sedikit rasa takut akan apa yang akan terjadi kalau keberuntungannya suatu saat habis.
Mereka tiba di gerbang Kota Millbrook keesokan siangnya, dan bahkan sebelum karavan itu benar-benar masuk ke dalam kota, kabar tentang "sang pahlawan misterius dari Desa Ellwood yang mengalahkan sekawanan Grimm Wolf sendirian" sudah entah bagaimana mendahului mereka — mungkin dari pedagang lain yang berpapasan di jalan, mungkin dari burung pembawa pesan yang biasa digunakan untuk komunikasi cepat di dunia ini. Aiko tidak benar-benar mengerti bagaimana berita bisa menyebar secepat itu, tapi dia mulai curiga bahwa "Aura Kepahlawanan" yang dijelaskan sosok Tuhan itu mungkin juga punya semacam efek samping yang membuat cerita tentang dirinya terdengar jauh lebih dramatis setiap kali diceritakan ulang.
Millbrook jauh lebih besar dari yang dia bayangkan — tembok kota tinggi mengelilingi ratusan bangunan batu dan kayu, jalan-jalan ramai dipenuhi pedagang, petualang bersenjata lengkap, dan bangunan besar bergaya arsitektur abad pertengahan yang membuat Aiko, untuk sesaat, lupa akan segala kecemasannya dan hanya terpana seperti turis yang baru pertama kali melihat kota asing.
Ini... ini beneran kayak yang aku bayangin waktu baca light novel, pikirnya, matanya berbinar penuh takjub.
Di tengah kota, berdiri sebuah bangunan besar dengan papan nama besar bertuliskan "Balai Petualang Cabang Millbrook", ramai dengan orang-orang berlalu-lalang, sebagian membawa senjata besar, sebagian menempelkan gulungan misi ke papan pengumuman di depan gedung.
"Nah," kata Toren, menepuk bahu Aiko dengan senyum lebar. "Ini dia tujuan kita. Kalau kamu mau daftar jadi petualang resmi, di sinilah tempatnya."
Aiko menatap gedung besar itu, jantungnya berdebar campur antara gugup dan penasaran.
Aku nggak bisa bertarung sama sekali, pikirnya. Tapi... mungkin ada cara lain buat aku berguna di sini. Aku harus coba.
Dia melangkah maju, mengikuti Toren dan Bram menuju pintu masuk Balai Petualang — tidak menyadari bahwa dari balkon lantai dua sebuah bangunan di seberang jalan, sepasang mata menatapnya dengan tajam, tersembunyi di balik tudung jubah gelap yang menutupi wajahnya.
Sosok itu mengamati Aiko selama beberapa detik, sebelum berbalik dan menghilang ke dalam bayangan lorong kota, membisikkan sesuatu yang tidak terdengar oleh siapa pun kecuali burung gagak yang bertengger di atas atap terdekat.
Aiko, tentu saja, tidak menyadari apa pun. Dia terlalu sibuk mencoba menyusun kalimat perkenalan yang terdengar tidak terlalu aneh untuk diucapkan di depan resepsionis Balai Petualang.
Dunia barunya baru saja mulai menunjukkan taringnya yang sesungguhnya. Dan entah dia siap atau tidak, Aiko baru saja melangkah lebih dalam ke dalam sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ia bayangkan.
Bersambung ke Chapter 3...
Catatan Penulis
Chapter 2 selesai! Kali ini Aiko menghadapi bahaya sungguhan untuk pertama kalinya — dan (untungnya) selamat berkat kombinasi kepanikan murni dan sedikit logika cepat yang, seperti biasa, disalahartikan total oleh orang-orang di sekitarnya. Millbrook baru saja dibuka, dan sepertinya ada seseorang yang sudah mulai memperhatikan gerak-gerik "sang pahlawan" ini. Sampai jumpa di Chapter 3!
Komentar Bab Ini (0)
Masuk untuk berkomentar.
Belum ada komentar di bab ini.