← Sasuga wa hero!

Kematian Seorang Kutu Buku

Bab 1 dari 2 3.692 kata Β± 17 menit 7 Agustus 2026

Ada tiga jenis orang yang begadang jam dua pagi di kamar kos sempit berukuran tiga kali empat meter: orang yang lagi mabuk cinta, orang yang lagi kejar deadline, dan orang gila.

Aiko Hiro adalah jenis ketiga.

Bukan gila dalam arti sebenarnya. Tapi kalau ada yang mengintip dari jendela kamarnya sekarang β€” meja belajar penuh kertas coretan, enam buku tebal bertumpuk kayak menara Pisa yang siap ambruk, dan seorang pemuda kurus berkacamata yang matanya merah karena kurang tidur tapi tetap menatap tajam ke deretan integral lipat tiga di layar laptop β€” mereka pasti akan berpikir dua kali sebelum menyebutnya "normal".

"Satu lagi," gumam Aiko pelan, sambil mengusap wajah dengan telapak tangan. "Selesaikan soal ini, terus tidur. Janji."

Dia sudah bilang begitu tiga jam yang lalu.

Aiko bukan tipe orang yang dikagumi banyak orang. Dia bukan yang paling ganteng di angkatannya, bukan yang paling jago olahraga, bukan juga yang paling jago gaul. Kalau ditanya dia jago apa, jawabannya cuma satu: matematika. Bukan jago biasa β€” dia salah satu dari segelintir mahasiswa yang mengerjakan soal-soal olimpiade internasional untuk hiburan, yang membaca jurnal penelitian topologi di waktu senggang seperti orang lain membaca komik.

Tapi kejeniusan itu ada harganya.

Sejak SMA, dia sudah terbiasa dengan pola hidup begini: belajar sampai lupa makan, lupa mandi, lupa bahwa dunia di luar jendela kamarnya masih berputar. Teman-temannya bilang dia "keterlaluan". Ibunya, lewat telepon setiap minggu, selalu bertanya dengan suara khawatir, "Kamu udah makan belum, Nak? Jangan lupa istirahat, ya."

"Iya, Bu, udah," jawab Aiko, sambil menatap piring kosong yang sebenarnya belum tersentuh sejak kemarin siang.

Dia berbohong. Tapi bukan bohong jahat. Cuma bohong supaya ibunya nggak khawatir.

Malam itu β€” malam yang nanti akan jadi malam terakhirnya di dunia yang dia kenal β€” kepalanya mulai berdenyut aneh. Bukan sakit kepala biasa yang hilang setelah minum obat warung. Ini beda. Rasanya seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam tengkoraknya, pelan tapi pasti, seperti ada yang mengetuk pintu dari sisi yang salah.

Dia mengabaikannya. Seperti biasa.

"Cuma kecapekan," katanya pada diri sendiri, sambil kembali menatap layar. "Kalau soal ini kelar, aku tidur."

Tiga minggu kemudian, dia pingsan di tengah kelas.

Ruang rawat inap itu putih, dingin, dan bau obat-obatan yang membuat siapa pun langsung merasa gelisah hanya dengan menghirupnya. Aiko duduk di ranjang, memandangi hasil scan otaknya yang ditempel di layar monitor oleh dokter dengan wajah yang berusaha terlihat tenang β€” usaha yang gagal total.

"Glioblastoma," kata dokter itu pelan, memilih kata-katanya seperti orang yang berjalan di atas kaca pecah. "Ini... jenis tumor otak yang agresif. Dan sudah cukup besar."

Ibunya menangis di samping ranjang. Ayahnya diam, tapi tangannya yang menggenggam gagang kursi memutih di buku-buku jarinya.

Aiko sendiri hanya diam, mencerna angka-angka yang disebutkan dokter β€” persentase harapan hidup, opsi terapi, kemungkinan operasi β€” dengan cara yang sama seperti dia mencerna soal matematika. Logis. Sistematis. Seolah kalau dia menghitungnya cukup teliti, dia bisa menemukan jalan keluar seperti biasanya.

Tapi kali ini tidak ada jalan keluar.

"Kenapa aku?" pikirnya, di malam-malam sunyi setelah kemoterapi yang membuat tubuhnya lemas sampai rasanya tidak sanggup mengangkat pensil. "Aku nggak pernah macam-macam. Aku cuma... belajar. Aku cuma pengen jadi pintar."

Tidak ada jawaban yang datang. Cuma bunyi mesin monitor jantung yang berdetak pelan di sampingnya, dan suara isak ibunya yang berusaha ditahan di luar pintu kamar, mengira Aiko sudah tidur.

Delapan bulan berlalu seperti mimpi buruk yang lambat.

Dan di suatu malam hujan bulan November, dengan tangan ibunya menggenggam tangannya erat-erat, Aiko Hiro menghembuskan napas terakhirnya di usia dua puluh dua tahun.

Kalimat terakhir yang sempat dia pikirkan, sebelum semuanya menjadi gelap, bukanlah penyesalan atas hidup yang terlalu singkat, atau ketakutan akan kematian.

"Aku... nggak sempat nyelesain soal itu."

Bagian 2 β€” Ruang Kosong

Tidak ada apa-apa.

Bukan gelap. Bukan terang. Hanya... kosong. Seperti berada di dalam kertas putih yang belum pernah disentuh pena.

Aiko β€” atau apa pun bentuknya sekarang, karena dia tidak yakin dia masih punya tubuh β€” berdiri (atau melayang, dia tidak yakin) di tengah ruang yang tidak berbatas itu.

"Halo?" suaranya sendiri terdengar aneh, bergema tanpa ada dinding untuk memantulkannya.

"Kamu sudah bangun rupanya."

Suara itu datang dari segala arah sekaligus β€” bukan keras, tapi entah kenapa mengisi setiap sudut kesadarannya. Aiko berbalik, dan di hadapannya perlahan terbentuk sosok. Bukan sosok manusia sepenuhnya β€” lebih seperti garis besar cahaya yang membentuk siluet seseorang, kadang seperti pria tua, kadang seperti anak kecil, berubah-ubah tergantung dari sudut mana Aiko memandangnya.

"Aku... mati, kan?" tanya Aiko, dengan nada yang mengejutkan dirinya sendiri karena terdengar begitu tenang.

"Benar," jawab sosok itu. "Namamu Aiko Hiro. Umur dua puluh dua tahun. Meninggal karena glioblastoma stadium akhir, hasil dari β€” bagaimana aku bilang ini dengan sopan β€” kebiasaan belajar yang, ehm, agak ekstrem."

"Jadi... kamu Tuhan?"

"Sebutan itu terlalu sempit untuk apa yang aku ini, tapi ya, kamu boleh memanggilku begitu kalau itu memudahkanmu."

Aiko terdiam sejenak. Aneh rasanya, berdiri di hadapan Tuhan tanpa merasa takut. Mungkin karena dia sudah mati, jadi apa lagi yang perlu ditakuti?

"Terus... aku di sini kenapa? Biasanya kan orang yang mati langsung... ya, entahlah, ke surga atau neraka atau apalah."

Sosok cahaya itu seperti tersenyum, meskipun Aiko tidak yakin bagaimana dia tahu itu tanpa ada wajah yang jelas.

"Aku sudah mengawasimu, Aiko. Bukan cuma detik-detik terakhirmu β€” tapi seluruh hidupmu. Caramu berpikir. Caramu memecahkan masalah yang bahkan orang dewasa sekalipun menyerah duluan. Kegigihanmu, meskipun kadang keterlaluan sampai merugikan dirimu sendiri."

Sosok itu mendekat.

"Aku melihat potensi dalam dirimu. Bukan potensi kekuatan fisik β€” jelas bukan itu, badanmu bahkan kalah dari anak SMA yang rajin olahraga. Tapi potensi otak. Potensi cara berpikir yang jarang aku temukan, bahkan di antara ribuan jiwa yang lewat di hadapanku."

"Jadi... maksudnya?"

"Aku ingin memberimu kesempatan kedua. Sebuah kehidupan baru, di dunia lain. Dunia dengan sihir, monster, kerajaan, dan segala hal fantastis yang mungkin pernah kamu baca di novel-novel ringan yang kamu curi-curi baca di sela-sela belajar."

Aiko mengangkat alis. "Kamu tahu soal itu juga?"

"Aku tahu segalanya, Aiko. Termasuk fakta bahwa kamu diam-diam menangis nonton anime shounen jam tiga pagi setelah gagal ujian tengah semester kalkulus lanjut."

"...Oke, itu nggak perlu disebut."

Sosok itu β€” yang kini mulai terasa lebih seperti sedang menahan tawa daripada benar-benar seorang dewa yang berwibawa β€” melanjutkan.

"Sebagai kompensasi atas hidupmu yang terlalu singkat, aku akan memberimu satu kekuatan istimewa di dunia barumu nanti. Biasanya, aku memberikan kekuatan sihir, kekuatan fisik luar biasa, atau kemampuan bertarung yang tak tertandingi kepada jiwa-jiwa sepertimu."

"Tapi?"

"Tapi kamu berbeda. Kekuatanmu bukan itu."

Ruang kosong di sekeliling mereka mulai berubah, menampilkan bayangan-bayangan samar β€” seorang pemuda berjalan di tengah kerumunan, dan setiap orang di sekitarnya menoleh dengan mata berbinar penuh kekaguman.

"Kekuatanmu adalah dirimu sendiri. Kecerdasanmu β€” akan aku tingkatkan jauh melampaui batas manusia normal. Kemampuan analisis, strategi, pemecahan masalah, semua akan berada di level yang bahkan tidak masuk akal untuk ukuran dunia barumu."

"Terus, di mana bagian kerennya?"

"Aku belum selesai." Suara itu terdengar sedikit geli. "Selain kecerdasan itu, aku akan memberimu satu hal lagi. Sebuah... aura. Sebutlah 'Aura Kepahlawanan'. Sebuah medan pengaruh pasif yang akan membuat siapa pun yang memandangmu, secara naluriah, mempersepsikan setiap tindakanmu β€” sekecil apa pun itu β€” sebagai sesuatu yang keren, penuh perhitungan, dan heroik."

Aiko mengerutkan kening. "Tunggu, jadi... maksudnya gimana persisnya?"

"Maksudnya," sosok itu berkata, dengan nada yang terdengar seperti sedang menahan tawa kecil, "kalau kamu tersandung batu dan jatuh, orang-orang di sekitarmu akan melihatnya sebagai gerakan menghindar yang brilian dari serangan tak terlihat. Kalau kamu menggaruk kepala karena bingung, mereka akan mengira kamu sedang menyusun strategi rumit. Bahkan kalau kamu cuma diam berpikir, mereka akan menganggapmu sedang membaca alur pertempuran tiga langkah ke depan."

Hening sejenak.

"...Itu kedengarannya konyol," kata Aiko akhirnya, jujur.

"Mungkin. Tapi percayalah, itu akan sangat berguna. Karena kamu, Aiko, tidak akan punya kekuatan fisik sama sekali di dunia barumu. Kamu tidak akan bisa mengangkat pedang dengan benar. Kamu tidak akan bisa menembus kulit monster paling lemah sekalipun dengan tinjumu. Kalau kamu harus lari dari bahaya, kamu akan lari β€” dan tersandung β€” seperti manusia biasa pada umumnya."

"Jadi aku... otak doang, tanpa otot sama sekali?"

"Tepat sekali. Tapi dengan otak itu, dan dengan aura yang membuat dunia memandangmu sebagai pahlawan tak peduli apa yang sebenarnya kamu lakukan β€” aku rasa kamu akan menemukan caramu sendiri untuk bertahan hidup. Bahkan lebih dari itu."

Sosok itu mulai memudar, seolah waktu pertemuan mereka hampir habis.

"Satu hal lagi, Aiko."

"Apa?"

"Dunia yang akan kamu tuju bukan dunia yang damai. Ada kekuatan-kekuatan besar yang bergerak di baliknya β€” perang antar kerajaan, monster-monster kuno yang mulai bangkit, dan sebuah ramalan tua yang mungkin, entah kenapa, sepertinya berhubungan dengan kedatanganmu."

"Ramalan? Tungguβ€”"

"Kamu akan tahu sendiri nanti. Sekarang, waktumu untuk pergi."

Cahaya mulai membanjiri pandangan Aiko, semakin lama semakin terang, sampai akhirnya semuanya memutih total.

Kalimat terakhir yang didengarnya, samar-samar, seperti bisikan yang menggema dari jauh:

"Selamat datang di kehidupan barumu, Sang Pahlawan. Meski kamu sendiri belum tahu kamu itu apa."

Bagian 3 β€” Hutan yang Tidak Dikenal

Aiko membuka mata.

Hal pertama yang dia sadari adalah bau tanah basah dan dedaunan lembap. Hal kedua adalah suara β€” kicau burung yang tidak pernah dia dengar sebelumnya, dengan pola nada yang aneh, seperti burung itu sedang menyanyikan lagu dalam skala nada yang tidak dikenal teori musik mana pun yang pernah dia pelajari.

Dia berbaring di atas rerumputan, menatap kanopi pepohonan raksasa yang menjulang tinggi di atasnya, celah-celah di antara dedaunan membiarkan cahaya matahari sore jatuh dalam garis-garis keemasan.

"Ini... bukan kamarku," gumamnya, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya β€” lebih dalam, lebih matang dari suara yang dia ingat terakhir kali.

Dia bangkit duduk, dan detik itu juga dia sadar dua hal penting.

Pertama: tubuhnya berbeda. Lebih tinggi. Lebih ramping tapi entah kenapa terasa proporsional dengan cara yang aneh β€” seperti tubuh ini dirancang untuk terlihat baik dari sudut mana pun, meskipun jelas-jelas bukan tubuh atlet. Tangannya halus, tanpa kapalan, jari-jarinya panjang seperti jari pemain piano β€” atau, pikirnya sambil menyeringai kecil, jari orang yang terlalu banyak mengetik rumus di kalkulator.

Kedua: dia memakai pakaian yang jelas bukan miliknya. Semacam jubah panjang berwarna abu gelap dengan detail bordir rumit di bagian tepinya, terikat dengan sabuk kulit di pinggang. Terasa seperti pakaian seorang cendekiawan, bukan petarung.

"Oke," katanya pelan, mencoba menata pikirannya. "Aku beneran direinkarnasi. Ini beneran terjadi."

Dia berdiri, dan detik itu juga sesuatu terjadi di kepalanya β€” seperti ribuan jendela informasi terbuka sekaligus, lalu tertutup lagi secepat mereka muncul, meninggalkan pemahaman yang tertanam begitu saja di otaknya. Dia tahu bahasa di dunia ini sekarang β€” entah bagaimana caranya. Dia tahu bahwa dia sedang berada di sebuah hutan bernama Hutan Ashvale, di pinggiran wilayah yang disebut Kerajaan Feltrania. Dia tahu tentang sistem mata uang, tentang keberadaan sihir sebagai hal yang lumrah, tentang monster-monster yang disebut "Grimm" yang berkeliaran di area liar.

Informasi itu masuk begitu saja, seperti dia baru saja mengunduh seluruh ensiklopedia dunia ke dalam kepalanya dalam sepersekian detik.

"Ini... luar biasa," bisiknya, mata berbinar untuk pertama kalinya sejak dia sadar. Bagian otaknya yang haus pengetahuan langsung menyala. "Dewa itu nggak bohong soal kecerdasan yang ditingkatkan."

Tapi euforia itu tidak bertahan lama, karena detik berikutnya dia mendengar suara.

Teriakan. Dari kejauhan, tapi jelas β€” suara seseorang yang sedang ketakutan.

Aiko membeku.

Oke, tenang, Aiko. Kamu jenius sekarang. Tapi kamu juga inget kata dewa itu β€” kamu nggak bisa ngelawan apa-apa secara fisik. Kalau itu monster, kamu bakal mati beneran, dan kali ini nggak ada reinkarnasi kedua.

Logikanya berkata untuk bersembunyi. Naluri bertahan hidupnya β€” yang untungnya masih berfungsi normal meskipun ototnya tidak β€” berkata hal yang sama.

Tapi ada sesuatu yang lain juga. Sesuatu yang menariknya ke arah suara itu, seperti rasa penasaran seorang ilmuwan yang tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat eksperimen yang sedang berlangsung, bahkan kalau eksperimen itu berbahaya.

"Ini ide buruk," gumamnya pada diri sendiri, sambil mulai berjalan β€” dengan hati-hati, mengendap di antara pepohonan β€” ke arah sumber suara. "Ini ide yang sangat, sangat buruk."

Tapi dia tetap berjalan.

Di sebuah jalan setapak kecil yang membelah hutan, sebuah pemandangan kacau sedang berlangsung.

Sebuah gerobak kayu terguling di pinggir jalan, roda kirinya patah. Beberapa peti kayu berserakan di tanah, sebagian isinya β€” kain-kain warna-warni dan botol-botol kaca kecil β€” tumpah ke jalan berlumpur. Seorang pria paruh baya berpakaian pedagang meringkuk di balik gerobak yang terguling, wajahnya pucat pasi, sementara di hadapannya berdiri tiga sosok berpakaian compang-camping, memegang golok dan tongkat kayu berpaku.

Bandit.

Aiko mengintip dari balik semak, jantungnya berdegup kencang. Dari sudut pandangnya, dia bisa melihat jelas β€” tiga orang bandit itu bukan tipe yang terlihat sangat kuat, tapi tetap saja, mereka bersenjata, dan pedagang tua itu jelas tidak bisa melawan.

"Serahkan semua barangmu, Pak Tua!" salah satu bandit menggeram, mengacungkan goloknya. "Atau kami potong satu per satu jarimu sampai kamu berubah pikiran!"

"K-kumohon... itu semua barang daganganku, kalau diambil, keluargaku bisa kelaparanβ€”"

Ini bukan urusanku, pikir Aiko, mencoba meyakinkan dirinya sendiri sambil perlahan mundur. Aku bahkan nggak bisa mukul nyamuk dengan benar sekarang. Aku bakal cuma jadi korban keempat kalau maju.

Tapi kakinya, entah kenapa, tidak mau bergerak mundur. Malah, tanpa dia sadari, ranting kering di bawah kakinya patah dengan bunyi krak yang keras di tengah keheningan hutan.

Ketiga bandit itu langsung menoleh ke arah semak tempat Aiko bersembunyi.

"Siapa di sana?!" bentak salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka melintang di wajahnya.

Mampus, pikir Aiko, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Mampus, mampus, mampusβ€”

Dengan kaki gemetar dan otak yang bekerja secepat mungkin mencari opsi β€” opsi mana pun β€” Aiko akhirnya melangkah keluar dari balik semak. Bukan karena dia berani. Tapi karena dia sadar, kalau dia lari sekarang, suara langkahnya di semak akan membuat mereka mengejar, dan dia sama sekali tidak tahu medan hutan ini untuk bisa kabur dengan efektif.

Jadi dia memilih opsi yang menurutnya "paling logis": berjalan keluar dengan tenang, seolah-olah dia memang berniat ada di sana sejak awal, sambil otaknya berputar liar mencari cara untuk tidak mati dalam lima menit ke depan.

Ketiga bandit itu menatapnya. Lalu saling pandang.

"...Siapa nih anak?" salah satu dari mereka bertanya, nada suaranya berubah, dari galak menjadi sedikit waspada.

Aiko menelan ludah, mencoba menjaga wajahnya tetap datar meskipun jantungnya berdebar seperti genderang perang. Dia melirik sekilas ke arah gerobak yang terguling, ke arah tali kekang kuda yang masih terikat di gerobak, ke arah lereng kecil berlumpur licin tepat di belakang para bandit itu β€” otaknya secara otomatis memetakan setiap detail medan seperti dia sedang menyelesaikan soal geometri ruang.

Kalau aku bisa bikin mereka mundur ke arah lereng itu...

"Aku cuma lewat," kata Aiko akhirnya, suaranya sendiri terdengar lebih tenang dari yang dia kira. "Tapi kayaknya kalian salah pilih tempat buat merampok hari ini."

Ucapan itu keluar begitu saja β€” sebenarnya bukan gertakan yang direncanakan, lebih ke arah dia mencoba mengulur waktu sambil berpikir. Tapi entah kenapa, ketiga bandit itu justru mundur setengah langkah.

"A-apa maksudmu?!" bentak si bertubuh besar, meskipun suaranya sedikit goyah.

Aiko sendiri bingung dengan reaksi mereka, tapi dia melanjutkan bluffing-nya β€” toh, tidak ada pilihan lain. "Kalian dengar suara di hutan tadi? Itu bukan cuma aku."

Ini bohong total. Tidak ada suara lain selain teriakan pedagang tua itu tadi. Tapi kebetulan, tepat di detik itu, seekor burung besar terbang mendadak dari dahan pohon di belakang para bandit, menimbulkan suara gemerisik keras di dedaunan.

Ketiga bandit itu terlonjak kaget, secara refleks mundur beberapa langkah β€” tepat menuju arah lereng berlumpur licin yang tadi dilihat Aiko.

Dan tepat seperti yang diperkirakan hukum fisika paling dasar, ketiganya kehilangan keseimbangan di tanah licin itu, terjatuh berguling-guling ke bawah lereng dengan teriakan kaget, golok dan tongkat mereka terlempar ke segala arah.

Hening.

Aiko berdiri mematung, sama kagetnya dengan siapa pun yang menyaksikan kejadian itu.

...Itu... itu cuma kebetulan, kan?

Tapi pedagang tua yang tadi ketakutan kini menatap Aiko dengan mata terbelalak, mulutnya menganga.

"L-luar biasa..." gumamnya, suaranya bergetar bukan lagi karena takut, tapi karena kagum. "Tuan Muda... anda dengan sengaja memancing mereka ke arah lereng licin itu, menggunakan gertakan verbal sebagai pengalih perhatian, lalu memanfaatkan momentum suara burung itu sebagai pemicu akhir untuk membuat mereka kehilangan keseimbangan tepat di titik yang anda inginkan..."

"Ehβ€”" Aiko membuka mulut untuk mengoreksi, tapi pedagang itu sudah keburu berdiri dan berlutut di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.

"Ini... ini adalah strategi paling brilian yang pernah saya saksikan seumur hidup saya! Anda bahkan tidak perlu mengangkat senjata sama sekali!"

Dari bawah lereng, terdengar erangan dan makian para bandit yang mencoba bangkit, tubuh mereka penuh lumpur dan lecet, terlalu babak belur dan malu untuk melanjutkan niat jahat mereka. Mereka justru buru-buru kabur masuk ke dalam hutan, meninggalkan senjata mereka yang berserakan.

Aiko menatap punggung ketiga bandit yang lari terbirit-birit itu, lalu menatap tangannya sendiri β€” tangan yang sama sekali tidak menyentuh siapa pun, tidak melakukan apa pun selain berbicara dan berdiri di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.

Ini... ini beneran kejadian yang dimaksud dewa itu? pikirnya, campuran antara syok dan geli mulai muncul di dadanya. Aku cuma untung-untungan dan mereka kepeleset sendiri, tapi orang ini mikirnya aku... merencanakan semuanya?

"T-tolong bangun, Pak," kata Aiko, gugup, mencoba membantu pedagang tua itu berdiri. "Saya cuma... kebetulan lewat."

"Kerendahan hati yang luar biasa," gumam pedagang itu, air mata syukur mengalir di pipinya yang keriput, sama sekali tidak mendengarkan protes Aiko. "Nama saya Bram, seorang pedagang kain dari Desa Ellwood. Tuan Muda telah menyelamatkan hidup saya dan seluruh dagangan yang menjadi penghidupan keluarga saya. Bolehkah saya tahu nama penyelamat saya?"

Aiko membuka mulut, ingin menjelaskan bahwa ini semua salah paham, bahwa dia sebenarnya cuma orang biasa β€” bahkan lebih lemah dari orang biasa β€” yang kebetulan beruntung.

Tapi entah kenapa, melihat mata pedagang tua itu yang berbinar penuh rasa hormat, kalimat yang keluar dari mulutnya justru berbeda.

"...Aiko," katanya pelan. "Namaku Aiko."

"Tuan Aiko," ulang Bram, dengan nada penuh penghormatan, seolah nama itu sendiri terdengar seperti gelar kebangsawanan. "Saya tidak akan pernah melupakan jasa anda."

Bagian 4 β€” Awal dari Sebuah Legenda yang Salah Kaprah

Malam itu, di sebuah kedai kecil di Desa Ellwood β€” desa terdekat dari lokasi kejadian β€” Bram menceritakan kisah "penyelamatannya" kepada siapa pun yang mau mendengarkan, dengan detail yang setiap kali diceritakan ulang, semakin dramatis dan semakin jauh dari kenyataan.

"...dan Tuan Muda itu, dengan tenang, tanpa mengangkat senjata sama sekali, membaca pergerakan ketiga bandit itu bagai membaca buku terbuka. Dia bahkan menggunakan alam sekitarnya sebagai senjata!"

Aiko, yang duduk di sudut kedai dengan semangkuk sup hangat di hadapannya β€” makanan pertama yang dia makan di dunia ini, dan rasanya benar-benar lezat setelah "kelaparan" selama berjam-jam β€” hanya bisa menghela napas panjang mendengar ceritanya sendiri diceritakan ulang seperti dongeng epik.

Ini beneran mulai di luar kendali, pikirnya, sambil menyendok sup, mencoba terlihat tidak terganggu meskipun beberapa penduduk desa sudah mulai melirik ke arahnya dengan tatapan penuh kekaguman.

"Permisi," seorang gadis kecil, mungkin berusia sepuluh tahun, mendekati mejanya dengan malu-malu, memegang seikat bunga liar. "Ini... untuk pahlawan yang menyelamatkan Paman Bram."

"Ehβ€”" Aiko gelagapan, tapi akhirnya menerima bunga itu dengan senyum canggung. "T-terima kasih."

Gadis kecil itu langsung berlari kembali ke ibunya dengan wajah berseri-seri, seolah baru saja bertemu tokoh dari cerita rakyat.

Aiko menatap bunga di tangannya, lalu menatap sekeliling kedai β€” wajah-wajah penduduk desa yang menatapnya dengan campuran rasa hormat dan penasaran, seperti dia adalah sesuatu yang istimewa, sesuatu yang jarang mereka temui.

Ini gila, pikirnya. Aku cuma anak yang kebetulan pinter matematika dan sekarang orang-orang ini mikir aku semacam... pahlawan legendaris?

Dia teringat kata-kata sosok cahaya yang mengaku sebagai Tuhan itu. Aura Kepahlawanan. Sesuatu yang membuat orang lain memandang setiap tindakannya β€” sekecil apa pun β€” sebagai sesuatu yang keren dan penuh perhitungan.

Jadi ini... beneran nyata, pikirnya, antara terkejut dan mulai memahami betapa anehnya kekuatan yang dia miliki. Bukan cuma bandit tadi yang kepeleset kebetulan. Semua orang di sini, entah kenapa, ngeliat aku sebagai... pahlawan. Padahal aku cuma... aku.

Malam itu, sambil berbaring di kasur sederhana yang disediakan Bram sebagai tanda terima kasih di rumahnya, Aiko menatap langit-langit kamar, pikirannya berkecamuk.

Di satu sisi, dia takut. Reputasi yang mulai terbentuk ini, kalau terus berkembang, pasti akan menarik perhatian β€” perhatian yang mungkin membawa masalah lebih besar dari sekadar tiga bandit amatir yang kepeleset di lereng berlumpur. Dunia ini, seperti yang dijelaskan sosok Tuhan itu, penuh dengan bahaya yang jauh lebih nyata: perang antar kerajaan, monster-monster kuno, ramalan misterius yang entah bagaimana berhubungan dengannya.

Dan dia β€” Aiko yang bahkan tidak bisa memukul dengan benar, yang badannya lemah seperti kertas, yang satu-satunya senjata adalah otaknya β€” bagaimana dia bisa bertahan kalau bahaya sesungguhnya datang?

Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahunya. Sesuatu yang membuat jantungnya berdegup bukan karena takut, tapi karena antusiasme yang sudah lama tidak dia rasakan sejak dia masih sehat, sejak dia masih bisa begadang mengejar soal-soal matematika paling rumit hanya demi sensasi menemukan jawabannya.

Dunia ini... penuh hal yang belum aku ketahui, pikirnya, matanya mulai terasa berat karena kelelahan yang menumpuk sejak hari yang gila ini dimulai. Kalau aku nggak bisa bertarung, aku akan cari cara lain. Aku akan pakai apa yang aku punya.

Dia memejamkan mata, dan sebelum benar-benar tertidur, satu pikiran terakhir melintas di kepalanya β€” pikiran yang, tanpa dia sadari, akan menjadi awal dari petualangan yang jauh lebih besar dari yang bisa dia bayangkan.

Entah kenapa... aku ngerasa ini baru permulaan. Dan di suatu tempat di dunia ini, ada sesuatuβ€”atau seseorangβ€”yang bakal jadi bagian penting dari cerita ini.

Jauh di utara, melewati pegunungan bersalju yang menjadi batas Kerajaan Feltrania, di sebuah reruntuhan kuil kuno yang sudah lama ditinggalkan, seorang gadis berambut hitam panjang duduk sendirian di atas altar batu yang dingin, pedang bermata tunggal tersandar di sampingnya, matanya menatap kosong ke arah cakrawala malam yang dipenuhi bintang.

Dia tidak tahu apa yang sedang menantinya. Dia hanya tahu, entah kenapa, malam ini terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya β€” seolah ada sesuatu, jauh di selatan, yang baru saja mulai bergerak.

Dan takdirnya, meskipun dia belum menyadarinya, baru saja mulai berputar.

Bersambung ke Chapter 2...

Catatan Penulis

Terima kasih sudah membaca Chapter 1 dari Sasuga wa Hero! Perjalanan Aiko baru saja dimulai β€” dari kutu buku yang meninggal karena terlalu keras belajar, menjadi seseorang yang (secara tidak sengaja) mulai dianggap pahlawan oleh dunia baru yang penuh bahaya. Ikuti terus petualangannya menuju Chapter 2, di mana reputasinya akan mulai menyebar lebih jauh β€” dan bahaya sesungguhnya baru akan dimulai.

πŸ’¬ Komentar

Komentar Bab Ini (1)

Masuk untuk berkomentar.

R
Rizal Dudung 1 bulan lalu

yo, ini kisah masayuki tensura kah? awokawdok

β†’